BADUNG, BALI EXPRESS- Desa Adat Padang Luwih, Kecamatan Kuta Utara, Badung, Bali secara rutin menggelar tradisi matimpugan tipat dan bantal atau juga disebut Masalaran.
Tradisi Masalaran ini digelar setiap Purnama sasih Kapat dalam kalender Bali.
Tradisi Masalaran dilaksanakan di Pura Desa dan Puseh, desa setempat dan diikuti oleh seluruh krama Desa Adat Padang Luwih.
Proesesi Masalaran diawali dengan menghaturkan soda pangusaban dilanjutkan dengan tradisi magibung dan diakhiri matimpugan tipat bantal (saling lempat ketupat dan jajan bantal).
Bendesa Adat Padangluwih I Gusti Ngurah Oka Suradarma mengatakan, sebagai prajuru, pihaknya berusaha konsisten melestarikan tradisi Masalaran.
Sebab tradisi ini disebutkan sebagai warisan leluhur yang sudah ada sejak abad 17.
“Sampai sekarang terus dilaksanakan tanpa pernah jeda walaupun dulu ada Covid-19. Pelaksanaanya saja saat pandemi yang diatur pesertanya sedikit dan dilakukan di pura,” ujar Suradarma.
Menurutnya, Masalaran ini sebagai perwujudan rasa syukur atas anugerah dan kerahayuan serta kemakmuran yang diberikan Ida Sanghyang Parama Kawi.
Walaupun tradisi ini berkaitan dengan budaya agraris, tetap menjadi ritual masyarakat Padang Luwih.
“Walaupun tidak banyak krama yang bekerja di sektor pertanian karena banyaknya sawah mengalami alih fungsi lahan, upacara tetap kami laksanakan. Ini sebagai bentuk rasa syukur dan keyakinan kami,” jelasnya.
Baga Parahyangan Desa Adat Padang Luwih I Gusti Ayu Ketut Artatik menuturkan Masalaran ini terkait dengan Aci Tabuh Rah Pengangon yang tersurat dalam lontar Tabuh Rah Pengangon. Aci Masalaran ini diperkirakan telah ada sejak 1775.
“Sarana utamanya bantal dan tipat. Bantal berkaitan dengan Sang Hyang Rare Angon sedangkan tipat berkaitan dengan Dewi Hyang Nini Bhagawanti. Ini merupakan bagian tak terpisahkan dari tradisi agraris,” terangnya.
Upacara Masalaran diawali dengan ngaturang soda pangusaban yang berisi banten salaran (dua wakul tumpeng, rerasmen, tebu, biu, jaje begina, enam tipat sirikan, enam bantal daha, sampian, dan penyenang alit). Tipat dan bantal inilah yang menjadi sarana katimpugan.
Krama Desa Adat Padang Luwih yang terdiri dari Banjar Pendem, Jeroan, Gaji, Tegaljaya, Celuk, dan Kwanji lalu melaksanakan persembahyangan.
Selanjutnya para pamilet (peserta) matimpugan duduk bersama untuk magibung.
“Filosofi magibung ini adalah duduk bersama saling berbagi setelah melaksanakan aci. Ini sebagai wujud keharmonisan dan memperkuat rasa persaudaraan,” paparnya.
Selesai magibung, peserta menuju margi agung (jalan raya) di depan Pura Desa dan Puseh Padang Luwih.
Mereka terbagi menjadi dua kelompok; selatan dan utara. Selatan sebagai linggih Betara Brahma sebagai pencipta, sedangkan utara sebagai linggih Betara Wisnu sebagai pemelihara.
Kedua kelompok lalu saling lempar tipat dan bantal hingga salah satu kelompok terdesak mundur. (*)
Editor : I Made Mertawan