BALI EXPRESS - Tari telek di Desa Jumpai merupakan tari wali yang pantang untuk tidak dipentaskan di lingkungan setempat.
Namun pementasan telek di Desa Jumpai sempat terputus beberapa tahun sebelum Gunung Agung meletus.
Guna mengembalikan kedamaian tersebut, para tetua di Desa Jumpai sepakat menggelar serangkaian upacara tolak bala. Salah satunya menghidupkan kembali kesenian telek.
Warga setempat meyakini, pementasan tari telek sebagai sarana untuk memohon dan menjaga keselamatan dunia, khususnya di wilayah desa adat setempat.
Jika tari telek tidak dipentaskan oleh masyarakat setempat, dipercaya akan dapat mengundang mara bahaya, hama penyakit pada tanaman dan hewan ternak (merana), wabah penyakit pada manusia (sasab), serta bencana lainnya yang dapat merusak keharmonisan masyarakat.
“Untuk menghindari bencana yang menimpa warga Desa Jumpai, maka atas kesepakatan bersama masyarakat Desa Jumpai, diadakan pementasan tari telek dan Ida Sesuhunan Ratu Gede yang berbentuk Barong Ket,” katanya.
Mereka meyakini bahwa pementasan tari telak sebagai salah satu upaya memohon keselamatan dunia dan akhirat.
Saat ini Desa Jumpai terbagi menjadi 2 banjar, yaitu Banjar Kangin dan Banjar Kawan.
Dua banjar tersebut secara bergiliran mementaskan tari telek. Namun masing-masing banjar memiliki tapel telek dan para penari telek.
Setiap kali telek dipentaskan, seluruh warga dipastikan menyaksikannya sekaligus memohon keselamatan kepada Ida Sang Hyang Widhi.
Tari telek ini dibawakan oleh empat penari yang boleh ditarikan oleh laki-laki ataupun wanita yang masih berusia anak-anak sampai memasuki masa truna bunga (akil balik kirakira berusia 6 tahun sampai 12 tahun).
Keempat penari itu memakai topeng berwarna putih dengan karakter wajah yang lembut dan tampan serta diiringi tabuh bebarongan.
Baik di Banjar Kangin maupun Banjar Kawan, tarian ini tidak berdiri sendiri, tetapi senantiasa dirangkaikan dengan tari jauk, tari topeng penamprat, Bhatara Gede (Barong), Rarung dan Bhatara Lingsir (Rangda).
“Seluruh unsur tarian itu berpadu membangun satu-kesatuan cerita yang utuh dengan durasi sekitar dua jam. Akhir pertunjukan diwarnai dengan atraksi narat/ngunying, yaitu menusukkan keris ke dada yang bersangkutan maupun ke dada Bhatara Lingsir,” imbuhnya.
Editor : Nyoman Suarna