Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Bali: Antisipasi Kerauhan Akibat Penyakit Bebai dan Ego, Ini Cara Mendeteksi

I Putu Mardika • Senin, 23 Oktober 2023 | 20:25 WIB
CARA: Ada dua hal yang dapat dilakukan jika menemukan seseorang mengalami kerahuan, untuk mengantisipasi kerauhan akibat penyakit bebai dan ego manusia.
CARA: Ada dua hal yang dapat dilakukan jika menemukan seseorang mengalami kerahuan, untuk mengantisipasi kerauhan akibat penyakit bebai dan ego manusia.

BALI EXPRESS - Ada dua hal yang dapat dilakukan jika menemukan seseorang mengalami kerahuan.

Upaya ini digunakan untuk mengantisipasi penilaian negatif terhadap fenomena kerauhan yang terjadi.

Dikatakan penekun lontar Ida Bagus Made Bhaskara, pertama, tatas akena, yaitu sikap amati, awasi, siapa yang kerauhan.

Kalau yang kerauhan adalah yang memiliki wewenang, pemangku dan sebagainya, maka prajuru, masyarakat wajib membawa yang kerauhan tersebut ke jeroan untuk natak rawos.

Baca Juga: Tradisi Bali: Kerauhan Mawecana dan Mesolah, Wajibkah Dibuktikan?

“Istilahnya memohon apa yang hendak disampaikan oleh sesuhunan, sehingga ada ritual ngaturang tetabuh, pesegeh. Kemudian pengempon harus natak raos  dan mendengarkan apa yang disampaikan” sebutnya.

Kedua, bila masyarakat biasa yang kerauhan atau bukan pemangku, maka setelah diamati, wajib dipindahkan ke madya mandala.

Karena, selain jero gede atau pemangku pengempon pura, tidak boleh ada yang kerauhan di areal jeroan pura.

“Setelah dipindah, maka kita tahu, apa yang hendak disampaikan. Untuk meyakinkan, wajib dipintonin, tujuannya untuk mawecana. Kalau mau mesolah, silahkan, asalkan tidak menyakiti dirinya sendiri dan menyakiti orang lain,” ungkapnya.

Di dalam lontar Widhi Sastra juga disebutkan, bila ada yang aja wera atau angaku-ngaku bhatara, maka sudah dipastikan seseorang ini mengalami sakit.

Sebab, di samping karena bebai, orang nekat mengklaim seperti itu justru karena dipengaruhi oleh egonya sendiri. Kondisi itu dianggap sama seperti orang yang tidak tahu mengaku tahu, orang yang tidak kelinggian tetapi ngaku kelinggihang.

Ia menyebut, apabila ada orang yang mengaku-ngaku kerauhan atau pura-pura kerauhan, maka dipastikan akan kena kutuk pemastu.

Paling tidak lara tan keni pinamban atau sakit tanpa bisa disembuhkan, bahkan bisa menemukan ajalnya.

“Itulah sebabnya, jangan menjadikan kerauhan sebagai sebuah permainan. Karena dampaknya bisa fatal. Tentu ini menjadi pertimbangan kita semua, untuk lebih jernih melihat jika ada fenomena kerauhan,” pesannya.

Apa yang dikatakan penekun lontar Ida Bagus Made Bhaskara adalah terkait dengan fenomena kerauhan di Bali saat ini menjadi stigma negatif.

Kondisi ini diperparah dengan diviralkannya setiap ada fenomena kerauhan diiringi backsound.

Padahal menurut penekun lontar dari Geria Sunia Tampaksiring Gianyar ini, kerauhan merupakan tradisi yang sudah ada sejak era Bali Kuna, sebelum masuknya Hindu ke Bali.

Menurutnya, kerauhan adalah bagian dari peradaban animisme dan dinamisme.

Tradisi ini sebagai kepercayaan purba kalau kekuatan alam dan manusia saling berpengaruh. Ada juga kekuatan roh suci yang berinteraksi dengan manusia.

Di Bali, ketika agama Hindu masuk, konsep hubungan antara roh suci masih terbawa, dan tidak terhapuskan, tetapi dimaknai kembali.

Lokasi Rumah Produksi Pengolahan Tempe Koro di Babakan, Poncosari, Srandakan yang sementara masih memanfaatkan rumah warga setempat.
Lokasi Rumah Produksi Pengolahan Tempe Koro di Babakan, Poncosari, Srandakan yang sementara masih memanfaatkan rumah warga setempat.
Editor : Nyoman Suarna
#bali #ego #hindu #tradisi #kerauhan #bebai