BALI EXPRESS - Masyarakat Gebog Domas adalah kelompok delapan ratus pemuka adat yang secara turun-temurun memuja Pura Pucak Panarajon, di Gunung Kahuripan di Kecamatan Kintamani, Bangli dan beberapa desa di Kecamatan Tejakula Buleleng.
Keberadaan Gebog Domas ini menjadi kekuatan pengikat kehidupan religi masyarakat di kawasan Kintamani hingga Buleleng, Bali.
Secara utuh masyarakat Gebog Domas dibagi menjadi empat kerlompok, yakni Gebog Satak Sukawana atau Kelompok Dua Ratus Sukawana, meliputi Desa Sukawana, Subaya, Batih, Pinggan, Siakin, dan beberapa desa di Kecamatana Tejakula yakni: Desa Tembok, Gretek, Sambirenteng, Les Penuktukan.
Gebog Satak Kintamani terdiri dari Desa Kintamani, Batur, Manikliyu, sampai Desa Katung.
Gebog Satang Bantang meliputi: Desa Bantang, Dausa, Cenigaan, Blandingan.
Gebog Satak Selulung, terdiri dari Desa Selelung, Desa Daup, Desa Pengajaran, Desa Belantih Desa Binyan,dan Desa Blanga.
Dalam Babad Bali Agung diceritakan tentang asal-usul kesatuan pemukiman yang disebut Gebog Domas.
Istilah ini diduga sama tingkatannya dengan persekutuan desa adat atau desa pakraman di Bali saat ini.
Kisahnya berawal ketika Rsi Markandya pertama kali datang ke Bali untuk membuka Pulau Bali guna dijadikan daerah pemukiman baru.
Rsi Markandya membawa krama (warga) yang menjadi murid atau pengikutnya berasal dari Gunung Raung (Jawa Timur) yang disebut Wang Aga (orang gunung).
Wong Aga pertama yang datang ke Bali berjumlah 800 kepala keluarga (KK). Hal ini dicocokan dengan kata Domas dalam istilah Gebog Domas yang artinya ikatan delapan ratus KK.
Warga Gebog Domas yang mengiringi Rsi Markandya datang ke Bali ini kemudian ditata bermukim berpencar ke dalam empat gugusan di empat penjuru (Nyatur Desa) disebut Kanca Satak.
Masing-masing gugus (Kanca) terdiri dari 200 (satak) KK yang menjadi bagian dari persekutuan desa pakraman yang disebut Gebog Domas pada masyarakat Bali Aga
Desa Sukawana dijadikan sentral dari Gebog Domas (Persekutuan Masyarakat 800 KK) yang terdiri dari empat Kanca Satak (Gugus Pemukiman 200 KK) yaitu Kanca Satak Sukawana, Kanca Satak Kintamani, Kanca Satak Selulung, dan Kanca Satak Bantang.
Jadi Kanca Satak adalah gugusan pemukiman terdiri dari 200 KK yang menjadi bagian dari persekutuan desa pakraman yang disebut Gebog Domas pada masyarakat Bali Aga.
Bendesa Adat Sukawana, Wayan Jasa menjelaskan, Pura Pucak Penulisan adalah sebagai pusat orientasi banua Gebog Domas dengan sub-sub pusat banua di Desa Sukawana, Batang, Kintamani, dan Salulung.
Upacara di Pura Pucak Penulisan yang dilakukan sepuluh tahun sekali pada hari Puranama Kapat disebut dengan Karya Catur Muka.
Upacara ini didahului dengan upacara “bhatara turun kabeh” yakni turunnya semua dewa dari seluruh banua dengan menjunjung pralingga/pratima dari simbol-simbol dewa.
Adapun prosesi dari iringan-iringan simbol para dewa keempat anggota benua itu dimulai dari Gebog Satak Sukawana. Setelah tiba di Pura Pucak Penulisan, pralingga dilinggihkan di bale pesamuhan agung. Setelah itu diikuti pralingga dari Gebog Satak Batang, Selunglung dan Kintamani.
Setelah semua dilinggihkan di Bale Pasamuhan, selanjutnya dihaturkan upakara (banten) tapakan linggih sebagai media penyapa atau perjamuan kepada seluruh dewa Desa Gebog Satak.
Setelah perjamuan itu dilakukan, maka prelingga dewa Desa Sukawana dipindahlan ke Bale Tajuk paruman dengan segala sesajiannya.
“Peran tetua perempuan dari Desa Sukawana, membuat sebuah sarana upakara. Sementara kelompok deha teruna laki-laki dan deha teruna perempuan membantu pelaksanaan upacara keagamaan yang dikomandoi para ulu apad,” sebutnya.
Setiap kelompok gebog satak berkewajiban mengeluarkan peturunan (iuran) sebagai modal untuk pelaksanaan upacara.
Urunan biasanya diperoleh dari dana punya atau sumbangan sukarela masyarakat pengempon pura, masyarakat umum ataupun sumbangan dari pemerintah.
Akan tetapi kewajiban yang utama akan tetap dilakukan seperti mengaturkan atos.
“Atos merupakan semacam kewajiban yang dikeluarkan untuk melengkapi sarana upacara, seperti garam, kunir, jahe, dan sebagainya untuk segala jenis masakan,” ungkapnya.
“Selain itu juga bahan upacara seperti janur, daun enau, bambu, kelapa, termasuk juga segala macam binatang periaraan yang dipergunakan untuk upacara, seperti ayam, itik, kerbau kecuali babi,” ungkapnya.
Editor : Nyoman Suarna