BALI EXPRESS - Hari suci Purnama adalah hari suci umat Hindu yang diperingati setiap 30 hari sekali.
Purnama merupakan salah satu hari suci umat Hindu di Bali yang perhitungannya berdasarkan sasih atau bulan.
Ni Luh Cesi, seorang Penyuluh Agama Hindu menjelaskan, kata purnama berasal dari kata “purna” yang artinya sempurna. Purnama dalam kamus umum bahasa Indonesia berarti bulan yang bundar atau sempurna.
“Pemujaan yang dimaksudkan saat purnama ditujukan ke hadapan Sang Hyang Candra dan Sang Hyang Ketu sebagai dewa kecemerlangan untuk memohon kesempurnaan dan cahaya suci dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam berbagai wujud Ista Dewata,” jelas Cesi.
Pada umumnya umat Hindu di Bali menghaturkan canang sari dan daksina pada pelinggih – pelinggih atau merajan dan pelangkiran yang ada di setiap rumah.
Mengenai hari suci purnama ini dalam Lontar Sundarigama disebutkan bahwa sudah seyogyanya para rohaniawan dan semua umat manusia menyucikan dirinya lahir bathin dengan melakukan upacara persembahyangan di sanggar – sanggar atau Parahyangan – parahyangan dan menghaturkan yadnya kehadapan Hyang Widhi.
Jadi berdasarkan kutipan lontar tersebut Purnama dipandang sebagai hari yang sangat suci dan sangat baik untuk melakukan penyucian diri secara lahir maupun bathin dan melakukan persembahyangan untuk memohon waranugraha dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasi-Nya.
Pada umumnya umat Hindu di Bali meyakini Purnama dipandang sebagai hari baik atau sering disebut dengan “dewasa ayu”.
Oleh karena itu, setiap datangnya hari – hari suci yang bertepatan dengan hari purnama maka pelaksanaan upacaranya disebut “Nadi”.
Tapi sesungguhnya tidak setiap hari Purnama disebut ayu tergantung juga patemon dina dalam perhitungan wariga.
Hari Kajeng Kliwon, jatuh pada hari Sabtu, nemu Purnama , disebut “Hari Berek Tawukan”. Dilarang oleh sastra agama melaksanakan upacara apapun dan Sang Wiku tidak oleh melaksanakan puja pada hari itu (Lontar Purwana Tattwa Wariga).
Bila Purnama jatuh pada hari Kala Paksa, tidak boleh melaksanakan upacara agama karena hari itu disebut “Hari Gamia” (Jagat Letuh). Sang Wiku tidak boleh memuja.
Mengenai hari Suci Purnama juga dimuat dalam lontar Purwana Tattwa Wariga diungkapkan sebagai berikut :
“Risada kala patemon Sang Hyang Gumawang kelawan Sang Hyang Maceling, mijil ikang prewateking Dewata muang Apsari, saking Swarga Loka, purna masa ngaran”
Arti petikan lontar tersebut adalah :
Sang Hyang Siwa Nirmala (Sang Hyang Gumawang) yang beryoga pada hari Purnama, untuk menganugerahkan kesucian dan kerahayuan (Sang Hyang Maceling) terhadap seisi alam dan Hyang Siwa mengutus para Dewa beserta para Apsari turun ke dunia untuk menyaksikan persembahan umat manusia khususnya umat Hindu kehadapan Sang Hyang Siwa.
Oleh karena itulah disebut piodalan nadi, Galungan nadi, sehingga ada penambahan upakaranya. Di samping itu karena Hyang Siwa merupakan Dewa Nya sorga.
Maka umat Hindu selalu tekun menghaturkan persembahan serta pemujaan kehadapan Hyang Siwa setiap datangnya hari Purnama dengan harapan bagi umat Hindu agar nantinya setelah ia meninggal, rohnya bisa diberikan tempat di sorga, atau kembali ke alam mokshah, suatu keadaan kebahagiaan yang tidak disusul oleh kedukaan. (*)
Editor : I Putu Suyatra