BALI EXPRESS - Desa Adat Gegelang, Desa Angantelu, Kecamatan Manggis, Karangasem hingga kini masih melestarikan tradisi Ngusaba Satuh di Pura Dalem.
Ngusaba Satuh ini dilaksanakan setiap satu tahun sekali, tepatnya pada Sasih Jyesta, penanggal ping tiga atau tiga hari setelah Tilem Kedasa.
Tokoh masyarakat Desa Adat Gegelang, Jro Wayan Suwita menjelaskan, Ngusaba Satuh merupakan sebuah persembahan yang ditujukan kepada Ida Sang Hyang Widhi beserta manifestasi-Nya dalam wujud Dewi Durga.
Tujuan Ngusaba Satuh adalah untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan serta menyeimbangkan bhuana agung dan bhuana alit sehingga kehidupan masyarakat menjadi harmonis dan terhindar dari segala malapetaka.
Ngusaba Satuh sangat unik. Tidak hanya rangkaian prosesinya, tetapi juga sarana upakara utama yang digunakan yaitu berupa jajan satuh.
Selain menggunakan jajan satuh, upacara Ngusaba Satuh juga menggunakan beberapa banten pendukung.
Prosesi Ngusaba Satuh di Desa Adat Angantelu, Kecamatan Manggis, Karangasem dilakukan dalam beberapa tahapan, mulai dari tahap persiapan, tahap pelaksanaan hingga tahap akhir.
Rangkaian prosesi upacara Ngusaba Satuh diawali dengan ngayah, untuk mempersiapkan sarana upacara.
Kegiatan ini dihadiri oleh prajuru Banjar Babakan dan Banjar Pakel, serati banten dan beberapa masyarakat.
“Beberapa hari kemudian dilaksanakan rangkaian upacara yang disebut mejaga-jaga, yaitu membawa sapi keliling wilayah yang berfungsi sebagai caru,” papar tokoh masyarakat Desa Adat Gegelang, Jro Wayan Suwita.
Tujuannya agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan pada saat upacara Ngusaba Satuh berlangsung,” jelasnya.
Kegiatan selanjutnya yaitu mesucian dan mapepada yang merupakan sebuah proses penyucian baik pratima/linggihan Ida Bhatara Dalem maupun sarana dan prasarana yang digunakan dalam upacara Ngusaba Satuh.
Puncak dari Ngusaba Satuh dilakukan dengan mempersembahkan sarana upakara yang disebut banten pangusabaan.
Upacara ini dipuput oleh seorang sulinggih.
Editor : Nyoman Suarna