BALI EXPRESS - Sebagai seorang manusia yang hidup dan menjalani kehidupan di dunia selalu dituntut untuk melakukan sesuatu sesuai dengan peradaban atau perkembangan zaman yang sedang berlangsung.
Perlu diketahui bahwa seorang manusia sejak kecil sudah dituntut untuk belajar, baik itu belajar berjalan, berbicara, makan, minum, dan lain sebagainya yang dilakukan baik itu di rumah, masyarakat, lingkungan sekitar dan sekolah.
Begitu pula dalam ajaran agama Hindu yang sudah tersirat dalam kesusastraan dan kitab Veda, sejak kecil dituntun soal Catur Asrama.
Ajaran tersebut berisi tingkatan-tingkatan kehidupan dan kewajiban yang akan dilalui sejak kecil hingga menjelang kematian.
Dilihat dari asal katanya, Catur Asrama terdiri dari kata Catur yang artinya empat, dan Asrama yang artinya jenjang kehidupan, tempat atau lapangan.
Jadi Catur Asrama artinya empat fase atau tahapan hidup atau empat macam tingkatan hidup untuk mencapai tujuan agama yang berlandaskan petunjuk agama.
Penyuluh Agama Hindu, Ni Made Ayu Suniari, menjelaskan, bagian dari Catur Asrama adalah Brahmacari.
Brahmacari berasal dari dua kata yaitu Brahma yang artinya ilmu pengetahuan suci dan Cari atau Car yang artinya bergerak.
Jadi Brahmacari artinya bergerak di dalam kehidupan untuk menuntut ilmu pengetahuan, atau masa untuk menuntut ilmu pengetahuan.
“Dalam kitab Nitisastra II.1, masa menuntut ilmu pengetahuan adalah maksimal 20 tahun. Setelah itu baru menikah untuk mempertahankan keturunan,” jelasnya.
Dalam kitab Manava Dharmasastra disebutkan bahwa umur untuk mulai belajar adalah semasa anak-anak, yaitu umur 5 tahun dan selambat-lambatnya umur 8 tahun.
Brahmacari dikenal juga dengan istilah Asewa Guru atau Aguron-guron yang artinya guru membimbing siswanya dengan petunjuk rohani atau ajaran kerohanian untuk memupuk ketajaman otak atau pikiran yang disebut dengan oya sakti.
Dalam masa Brahmacari seorang siswa dilarang mengumbar hawa nafsu atau sex karena akan mempengaruhi ketajaman otak atau pikiran.
Untuk masa menuntut ilmu tidak ada batasan umur, mengingat ilmu itu terus berkembang mengikuti waktu dan zaman. Karena itu, pendidikan dapat dilakukan seumur hidup.
“Grahasta merupakan jenjang yang kedua, yaitu kehidupan pada waktu membina rumah tangga dari mulai menikah,” imbuh Suniari.
Kata Grahasta berasal dari dua kata yaitu dari kata Grha yang artinya rumah dan Stha yang artinya berdiri.
Jadi Grahasta artinya berdiri membentuk rumah tangga.
Dalam menjalani biduk rumah tangga atau bahtera rumah tangga, harus mampu seiring dan sejalan untuk membina hubungan atas dasar saling cinta mencintai dan didasari atas ketulusan.
“Selanjutnya ada Wanaprasta, terdiri dari dua kata Wana yang artinya pohon, kayu, hutan, semak belukar dan Prasta yang artinya berjalan, berdoa,” ungkapnya.
“Jadi Wanaprasta adalah hidup mengasingkan diri ke dalam hutan. Mulai mengurangi hawa nafsu dan bahkan melepaskan diri dari ikatan duniawi,” lanjut Suniari.
Pada zaman dahulu orang mengasingkan diri ke hutan untuk mencari ketenangan dan belajar menjadi seorang petapa atau sanyasin.
Dalam tahapan ini, seseorang secara perlahan mulai meninggalkan ikatan keduniawian atau hal yang berhubungan dengan material.
Bhiksuka atau sanyasin berasal dari kata biksu yang merupakan sebutan dari pendeta Budha.
Biksu yang berarti meminta-minta. Pada masa ini seseorang sudah benar-benar terlepas dari ikatan duniawi atau material.
Dalam fase ini manusia Hindu seharusnya sudah tidak memikirkan hawa nafsu, dan hanya berbuat dharma untuk mengabdikan diri pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar mencapai kebebasan dari penderitaan alam material.
Editor : Nyoman Suarna