BALI EXPRESS – Menurut ajaran dalam agama Hindu, ada lima kebohongan yang diperbolehkan dan dianggap tidak berdosa karena tidak berdampak negatif pada orang lain, tetapi demi kebaikan.
Hal ini didasari atas keyakinan yang menganggap manusia merupakan makhluk Tuhan paling sempurna dibandingkan dengan makhluk lainnya karena memiliki kelebihan idep (pikiran).
Melalui pikiran atau wiweka jnana inilah manusia dapat menimbang kebaikan dan keburukan.
Meski demikian, tak selamanya manusia bisa berpikir, berkata, dan berlaku yang elok karena dipengaruhi unsur Tri Guna Tattwa (Satwam, Rajas, dan Tamas).
Penyuluh Agama Hindu di Bali, Ida Ayu Gede Trisna Agustini, menjelaskan, Satyam Eva Jayate merupakan salah satu moto hidup umat Hindu yang sangat populer, bermakna bahwa kebenaran akan selalu menang.
Satyam, selain berarti kebenaran juga memiliki arti kejujuran. Hal ini bisa dimaknai bahwa dalam tindakan yang benar, selalu bersandar pada nilai-nilai kejujuran.
Kejujuran menjadi perilaku yang sangat berharga bagi setiap orang, dan sebaliknya kebohongan menjadi sesuatu yang sangat buruk bagi semua orang.
Sangat lumrah kita dengar bahwa suatu kebohongan akan diikuti oleh kebohongan-kebohongan yang lebih besar.
“Orang yang melakukan kebohongan akan sangat susah mendapat kepercayaan kembali dari orang lain, padahal kepercayaan menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi semua orang dalam melakukan interaksi,” jelas Ida Ayu Trisna.
Hindu secara umum sangat menekankan perilaku hidup yang penuh kejujuran. Namun ada beberapa kebohongan yang diperbolehkan.
Kebohongan tersebut bukan sebuah dosa dan tidak berdampak negatif pada orang lain. Sama halnya ketika Yudistira terpaksa harus berbohong kepada gurunya Drona, tentang kematian Aswatama.
Lima kebohongan yang diperbolehkan lazim disebut dengan Panca Nrta.
Kitab Slokantara 69 menyebutkan : “Narma syad wacanam yaddhi pranadrawyaraksane ca, Strisu wiwaha kale tu pancanrtam na patakam.”
Artinya :
Lima kebohongan yang dianggap bukan dosa yaitu: lelucon, ucapan yang menyebabkan orang tertawa, kebohongan untuk menyelamatkan jiwa, untuk menyelamatkan harta kekayaan, menyelamatkan anak dan istri, dan juga pada waktu bersenggama atau bercumbu rayu.
Baca Juga: Lalai Setor Pajak, Pemilik Jasa Konstruksi di Bali, Divonis 1,5 Tahun Penjara
Ujar ing siwo mapaceh-pacehan, artinya ucapan lelucon untuk membuat orang tertawa.
Ujar karakshan ing urip : Ucapan untuk menyelamatkan jiwa
Ujar karakshan ing drewya : Ucapan untuk menjaga harta
Ujar karakshan ing anak rabi : Ucapan untuk menyelamatkan anak dan istri
Ujar risedenging pasanggaman : Ucapan pada saat bercumbu rayu dan bersenggama
“Lima kebohongan yang diizinkan dalam ajaran Hindu, tentunya bukan untuk membiasakan kebiasaan berbohong. Namun lebih pada kebijaksanaan untuk sesuatu yang lebih besar,” imbuh Dayu Trisna.
Dalam gurauan ataupun canda, tentu kadangkala kita melakukan beberapa kebohongan yang tentu tujuannya bukan untuk merugikan orang lain.
Baca Juga: MUI Keluarkan Fatwa Haram Pembelian Terhadap Produk Dukung Agresi Israel ke Palestina
Demikian pula untuk menyelamatkan jiwa, anak istri dan harta, tentu dalam beberapa kondisi seseorang layak untuk berbohong.
Semisal ketika menghadapi sebuah perampokan dan lainnya, tentu sangat naif berkata jujur yang nantinya berdampak pada keselamatan diri dan keluarganya. Kebohongan saat cumbu rayu dan bersenggama dalam beberapa hal, tentunya dilakukan oleh pasangan.
Editor : Nyoman Suarna