BALI EXPRESS – Saat melakukan pemujaan atau ngelokapalasraya, dalam tradisi Bali seorang pendeta (pandita) Hindu mengenakan busana khusus.
Busana tersebut di antaranya Astha Bharana, Gudhuita atau Gudhuha (gelang), bhawa atau Ketu (mahkota). Sedangkan dalam keseharian, pendeta Hindu juga tak lepas dari teteken atau tongkat.
Busana dan peralatan tersebut bukanlah sekadar asesoris untuk memperindah penampilan tetapi memiliki makna tertentu.
Astha Bharana, Gudhuita atau Gudhuha misalnya, adalah semacam gelang berbahan genitri yang digunakan di tangan kanan dan kiri seorang pendeta Hindu saat melakukan pemujaan.
Astha Bharana digunakan oleh semua golongan pandita. Namun untuk Pandita Budha, ditambah dengan gelangkana yang dipakai di lengan atas.
Cendikiawan Hindu, Ida Bagus Purwa Sidemen memaparkan, gelangkana/pinggel tersebut merupakan personifikasi tangan Ida Bhatara Budha.
“Beliau pageh (taat) ngamel (memegang) kasucian seperti seorang Budha. Gelangkana adalah simbol tangan Sang Hyang Budha yang kuat dan teguh memegang kesucian sesuai dengan ajaran kepanditaan Budha Sesana,” jelasnya.
Sedangkan Angustha Bharana adalah semacam gelang kecil yang digunakan sang pandita di ibu jari tangan kanan dan kiri. Agustha atau Agusthi ini terbuat dari buah genitri.
Selanjutnya, sarana Bhawa atau juga disebut dengan Ketu atau Amakuta atau Swetabhawa, adalah sebuah makhota yang dikenakan di kepala (hulu) pandita.
Bhawa atau mahkota digunakan saat seorang pandita melakukan pemujaan sekaligus simbol Dewata Nawa Sanga yang dipujanya.
Bhawa/Ketu atau Amakuta atau Swetabhawa memiliki aneka ragam bentuk, tetapi secara umum memiliki kemiripan.
Khususnya bentuk Ketu Pandita Siwa dan Bhujangga Waisnawa, menyerupai Siwa Lingga, sedangkan untuk Pandita Budha adalah ke-Kresna-an atau disebut juga Bhawa Karana.
Salah satu ciri seorang Pandita Siwa, Budha, Bhujangga Waisnawa adalah memakai teteken (tongkat).
Bentuk, jenis, dan bahan yang dipakai sebagai tetekan sangat bervariasai.
Artinya, ada yang berbahan kayu, bambu, batang tanaman beregu, atau kayu lainnya yang diyakini bertuah.
Ornamen yang terdapat di ujung atas teteken, yang dipakai atau berfungsi sebagai pegangan, juga sangat variatif, bergantung pada selera dan keinginan sang pandita.
Biasanya pegangan teteken berbentuk naga, kera, bhajra, dan bentuk alami yang ada di kayu tersebut.
Teteken dapat dijadikan sebagai simbol penuntun, baik penuntun secara fisik bagi pandita maupun penuntun umat dalam hal kehidupan beragama dan kerohanian.
Teteken dengan sebutan lainnya yaitu Danda Astra merupakan nyasa (simbol) dari ajaran suci bersumber dari Weda.
Menurut Ida Bagus Purwa Sidemen, teteken merupakan gegamelan atau pegangan agar seorang pandita kuat, kukuh, kokoh, dan lurus menjalankan aturan kepanditaan (Siwa Sasana) dan dharma agama,
“Seorang pandita harus memiliki gegamelan (pegangan) yang kuat dan tidak mudah tergoyahkan oleh hal-hal yang merugikan, bahkan tercela (ujar ala),” jelasnya.
“Untuk itu teteken menjadi simbol pegangan penting bagi Pandita Siwa, Budha, dan Bhujangga Waisnawa,” tutupnya.
Editor : Nyoman Suarna