BALI EXPRESS – Sesuai tradisi Bali, cara ketiga membuat hujan menurut lontar Nerang Ujan, dilakukan di sanggah kemulan.
Permohonan untuk membuat hujan ini juga dilengkapi sarana prasana rerajahan/gambar naga yang diletakkan di sanggah kemulan.
Menurut tokoh Aliansi Pemuda Hindu Bali, Putu Eka Sura, penggunaan sanggah kemulan untuk ritual membuat hujan, karena yang dipuja di Sanggah Kamulan adalah sumber atau asal dari manusia itu mulai ada.
Sehingga Sanggar Kamulan adalah tempat terbaik untuk memohon dan memuja agar hujan turun, sebagaimana lontar Nerang Ujan.
Penggunaan banten dalam menghentikan hujan atau mendatangkan hujan adalah wujud bhakti Si Pawang Hujan kepada sang Penguasa Alam Semesta.
Harapannya agar berkenan mempermudah, dan melancarkan prosesi nerang ujan ataupun pangujanan.
Dalam teks lontar Nerang Ujan dijelaskan, banten yang digunakan untuk nerang atau membuat hujan, di antaranya Banten Panghayate yang terdiri atas ajuman poleng, rayunan pajegan, peras, canang, daksina, suci, ketipat gong maulam, taluh bebek maguling, segehan selem 33 tanding, dan rantasan.
Dilanjutkan dengan menggunakan sarana prasarana lainnya seperti menggunakan dupa yang dinyalakan untuk nerang. Sedangkan untuk menghentikan hujan menggunakan bungkak atau kelapa kecil.
Jika ingin mendatangkan hujan, caranya dengan masiram bungkak atau sari nyembarang toya, yaitu memercikkan air bungkak di sanggah kemulan.
Untuk nerang hujan, menggunakan lampu jembung (lampu yang agak berbentuk bulat. Kertas/kain putih dengan secarik isi rerajahan/gambar Sang Hyang Acintya.
Editor : Nyoman Suarna