BALI EXPRESS – Desa Adat Timbrah, Karangasem memiliki tatacara tersendiri dalam prosesi pembersihan jenazah. Tradisi pembersihan jenazah masyarakat Bali Timur ini sangat unik.
Setelah sarana berupa bebantenan ataupun peralatan selesai, maka diadakan kegiatan nunas tirta di merajan lingsir dan pamaksan, serta nunas kajang sari kepada sulinggih
Sebelum dibawa ke kuburan, jenazah dimandikan terlebih dahulu.
Rangkaian memandikan jenazah dimulai dari menurunkan mayat dari tempat persemayaman (Bale Dangin), kemudian diusung ke halaman tengah rumah.
Selanjutnya jenazah ditidurkan di balai bambu/pepaga untuk dimandikan.
Selesai mandi, makramas, dan masisig, jenazah disirami dengan air kumkuman, yaitu air yang diisi asap kemenyan dan kayu berbau harum seperti cendana.
Tujuannya agar jenazah maupun roh orang yang meninggal tersebut bersih.
Rangkaian ritual berikutnya adalah makerik kuku di kaki dan tangan. Kemudian meititk-itik, memasang reramuan seperti boreh miik dan wewangian.
Setelah itu baru mewastra (memakai busana), diawali dengan memasang bablonyoh putih di kepala, sedangkan yang kuning tempatnya di kaki.
Kemudian dipasang kain selengkapnya, yang secara simbolik untuk persiapan muspa.
Prosesi selanjutnya adalah melaksanakan persembahyangan.
Setelah persembahyangan dilanjutkan dengan kegiatan ngeringkes, yaitu mayat dibungkus kajang sari, kain kafan, tikar, lante, dan akhirnya dengan kamben.
“Sebelum berangkat ke kuburan, disiapkan beberapa peralatan seperti api bobok (obor) sebagai sarana penerangan," ujarnya.
"Tujuan agar orang yang meninggal menemui jalan terang. Disertai juga dengan beras kuning berisi pipis bolong untuk sambeh-sambeh agar tidak diganggu oleh para bhutakala,” jelasnya.
Sebelum jenazah dibawa ke kuburan, beberapa jero mangku disertai beberapa krama berangkat untuk matur piuning serta nunas tirta upasaksi ke Pura Dalem, Prajapati, Penguluning Setra dan memohon ijin kepada Bhatari Ibu Pertiwi bahwa akan diadakan penguburan jenazah.
Editor : Nyoman Suarna