TABANAN, BALI EXPRESS - Tidak ada prasasti yang menyebut keberadaan Pura Luhur Pucak Kedaton yang ada di puncak Gunung Batukau, Penebel, Tabanan.
Namun Babad Pasek yang disusun oleh Jro Ketut Subandi menyebutkan bahwa yang berstana di Pura Luhur Pucak Kedaton adalah yang terbungsu dari Sapta Dewata.
Hal ini dipaparkan Bendesa Adat Piling, Desa Mengesta, Kecamatan Penebel, I Ketut Ardiana.
“Ida Hyang Pasupati yang berstana di Gunung Semeru Jawa Timur mempunyai 7 orang putra yang dikenal dengan Gelar Sapta Dewata," terang Ardiana
"Ketujuh putra Hyang Pasupati adalah Hyang Geni Jaya, Hyang Dewi Danuh, Hyang Putranjaya, Hyang Tugu, Hyang Manik Gayang, Hyang Manik Gumawang, dan Hyang Tumuwuh,” paparnya.
Karena istri Hyang Tumuwuh suka dengan daging babi maka istrinya tidak diperkenankan tinggal di Puncak Gunung dan disuruh membangun genah (tempat).
Tempatnya adalah jatuhnya kepala babi yang dihempaskan oleh Ida Hyang Tumuwuh.
Kepala babi itu jatuh di Pura Kerihinan (sekarang) kemudian menjadi Batukaru (Konsep Siwa Pasupati/ Mahadewa).
“Kemudian dibangunlah Catur Loka Phalanya (Empat Kahyangan Penyangga), yaitu Pura Manik Slaka sebagai Puseh, Pura Ninggar Sari sebagai Bale Agung (Desa), Pura Dalem Sading (Usada) sebagai Dalem, dan Pura Jro Tengah sebagai Pura Penataran Pucak Kadaton,” tegasnya.
Keempat pura kahyangan tersebut memiliki pelinggih saren.
Semua bentuk pelinggih pura kahyangan tersebut, dari Pucak Kedaton sampai Pura Penatarannya, berupa bebaturan yang diyakini dibangun pada zaman megalitikum.
Ketika dibandingkan dengan Kahyangan Besi Kalung/Wesi Kalung, bentuk dan bahan bangunan pura tersebut juga sama.
Menurut prasasti, Pura Kahyangan Besi Kalung diperkirakan dibangun pada tahun Saka 837 atau 915 Masehi. Jika merujuk pada prasati tersebut, berarti Pura Pucak Kedaton dan Pura Penataran adalah sezaman bahkan lebih tua.
Pura Luhur Pucak Kedaton diyakini sebagai penjaga kemakmuran dan kedamaian yang berlokasi di tengah-tengah Pulau Bali.
Saking takjubnya Ida Cokorda Sukaranti (Sukawati) melihat keindahan pura tersebut, dia tidak ingin kembali ke Sukawati.
Karena sebagai raja, dalam keadaan terpaksa Cokorda Sukaranti harus kembali, meski pikiran dan jiwanya selalu terkenang dengan Pura Pucak Kedaton.
“Sampai akhirnya Cokorda Sukaranti mengeluarkan bisama bahwa keturunannya tidak boleh ke Pucak Kedaton,” tutup Ardiana.
Editor : Nyoman Suarna