BALI EXPRESS - Pura Manik Kembar di Desa Datah, Kecamatan Abang, Karangasem menjadi salah satu pura yang seringkali didatangi pemedek (umat) yang memiliki anak kembar.
Ini dilakukan pada saat upacara ngelinggihang kembar/ngenteg linggih, ngodalin dewa kembar, upacara tigabulanan sampai dengan upacara perkawinan.
Untuk upacara tersebut, masing-masing keluarga yang memiliki anak kembar membangun palinggih (bangunan suci) dalam wujud gedong kembar untuk menstanakan Dewa Kembar.
Pembuatan banyaknya rong tersebut disesuaikan dengan jumlah anak kembar yang lahir. Kalau yang lahir kembar dua, maka dibuatkan palinggih yang memiliki rong kalih atau rong dua.
Apabila anak yang dilahirkan kembar tiga, maka palinggih tersebut terdiri dari tiga rong.
“Palinggih tersebut merupakan perwujudan rasa syukur ke hadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) dalam manifestasinya sabagai Dewa Aswin (Dewa Kembar),” kata Jro Mangku Nengah Sukerti, salah seorang pengempon Pura Manik Kembar.
Keberadaan Pura Manik Kembar sangatlah penting terutama bagi keluarga tertentu yang memiliki keturunan atau anak kembar.
“Mereka yakin bahwa kelahiran anak kembarnya mendapat keselamatan dan keberuntungan bagi keluarga apabila setiap proses upacara untuk anak tersebut diawali dengan nangkilang ke Pura Manik Kembar,” paparnya.
Para orang tua yang memiliki anak kembar yang melaksanakan proses upacara ngelinggihang anak kembar, diawali dengan nangkilang ke Pura Manik Kembar.
Semua berkeyakinan bahwa pura ini sebagai tempat untuk mohon restu dan menyucikan anaknya, sebelum dibuatkan upacara ngalinggihang Dewa Kembar.
Di pura ini terdapat beberapa jenis tirta, seperi tirta sudamala (untuk menyucikan segala kotoran/mala), tirta samsam (memperkuat kehidupan), tirta petak (menyucikan pikiran), tirta jagasatru (menjaga dri dari segala mala petaka/bahaya), dan tirta usada (untuk mengobati penyakit).
Untuk mengetahui keberadaan tirta tersebut biasanya dilihat pada saat Purnama atau Tilem, kalau sesuhunan yang berstana di pura ini berkehendak pada umatnya.
Para pemedek tidak hanya dari Desa Bulakan, tetapi juga dari seluruh Bali, bahkan dari luar Bali.
“Banyaknya umat yang sembahyang ke Pura Batu Belah, khususnya umat yang memiliki anak kembar saat upacara Ngelinggihang Dewa Kembar maka pura Batu Belah lebih populer disebut Pura Manik Kembar,” tutupnya.