BALI EXPRESS - Hal yang menguatkan kepercayaan orang yang mempunyai anak kembar untuk datang ke Pura Manik Kembar, di Desa Datah, Kecamatan Abang, Karangasem adalah Palinggih Gedong Kembar sebagai stana Ida Batara Manik Kembar.
Di Palinggih Gedong Kembar tersebut terdapat dua pratima yang bentuknya sama. Pratima tersebut terbuat dari uang kepeng koci bergambar manusia sebagai pralingga Cili Kembar.
Terdapat pula pasamuan untuk Gong Kembar, namun pratimanya tersimpan di Pura Bulakan.
Pengempon Pura Pura Manik Kembar, Jero Mangku Nengah Sukerti menjelaskan, krama yang mempunyai anak kembar berkeyakinan bahwa dengan dibuatkan kelengkapan pula-pali terhadap anak kembar tersebut dan disertai dengan nangkilang ke Pura Manik Kembar maka diyakini akan memberikan perubahan dalam kehidupannya.
Perubahan tersebut bukan saja menyangkut keselamatan, tetapi juga aspek yang lainnya, seperti perubahan ekonomi.
Menurutnya, pemedek yang nangkil sering mengaku bahwa keadaan ekonomi keluarganya sedikit demi sedikit mengalami perubahan semenjak mereka memiliki anak kembar tersebut.
Meski dengan keterbatasan pekerjaan yang dimiliki, mereka mampu membawa perubahan keadaan ekonomi keluarganya. Sebelum memiliki anak kembar, mereka merasa sulit untuk makan sehari-hari.
Namun dengan lahirnya anak kembar di tengah-tengah keluarga mereka, dirasakan membawa berkah dan keberuntungan. Ini dibuktikan dengan aktivitas yang dilakukan sebagai tumpuan ekonomi, memberikan cukup arti.
Apa yang mereka kerjakan, dari segi penghasilan, dirasakan sangat cukup bahkan lebih dari cukup. Sepanjang perjalanan keluarga ini, keadaaan ekonominya semakin membaik, khususnya bagi anak kembar tersebut
Para orang tua yang memiliki anak kembar yang melaksanakan proses upacara ngelinggihang anak kembar, diawali dengan nangkilang ke Pura Manik Kembar.
Semua berkeyakinan bahwa pura ini sebagai tempat untuk mohon restu dan menyucikan anaknya, sebelum dibuatkan upacara ngalinggihang Dewa Kembar.
Di pura ini terdapat beberapa jenis tirta, seperi tirta sudamala (untuk menyucikan segala kotoran/mala), tirta samsam (memperkuat kehidupan), tirta petak (menyucikan pikiran), tirta jagasatru (menjaga dri dari segala mala petaka/bahaya), dan tirta usada (untuk mengobati penyakit).
Untuk mengetahui keberadaan tirta tersebut biasanya dilihat pada saat Purnama atau Tilem, kalau sesuhunan yang berstana di pura ini berkehendak pada umatnya.
Para pemedek tidak hanya dari Desa Bulakan, tetapi juga dari seluruh Bali, bahkan dari luar Bali.
“Banyaknya umat yang sembahyang ke Pura Batu Belah, khususnya umat yang memiliki anak kembar saat upacara Ngelinggihang Dewa Kembar maka pura Batu Belah lebih populer disebut Pura Manik Kembar,” tutupnya.