Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Bali: Uniknya Upacara Piksuji Daha Truna, Tokoh Desa Adat Bantang Ungkap Tujuannya

I Putu Mardika • Jumat, 15 Desember 2023 | 16:49 WIB
PIKSUJI: Salah satu tarian unik yang dipersembahkan oleh para daha truna saat upacara Piksuji di Desa Bantang, Kecamatan Kintamani, Bangli.
PIKSUJI: Salah satu tarian unik yang dipersembahkan oleh para daha truna saat upacara Piksuji di Desa Bantang, Kecamatan Kintamani, Bangli.

BALI EXPRESS - Desa Adat Bantang, Kecamatan Kintamani, Bangli hingga kini masih menyelenggarakan upacara Piksuji Daha Truna.

Sebagai bagian dari tradisi Bali, upacara Piksuji merupakan bagian dari Dewa Yadnya yang sakral dan unik.

Piksuji berarti upacara persembahan. Sebagai umat manusia, diharapkan belajar menata kehidupan agar menjadi lebih baik dan sebagai rasa tanda wujud terima kasih dengan melaksanakan persembahan berupa yadnya ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Tokoh desa adat Bantang, Jro Mangku Widana mengungkapkan, dalam pelaksanaan upacara Piksuji Daha Truna, yang diutamakan adalah pasangan truna-truni (daha truna).

Daha berarti kelompok wanita yang masih remaja dan truna berarti kelompok laki-laki yang masih remaja.

Upacara Piksuji Daha Truna berlangsung satu tahun sekali, setiap Purnamaning Kapitu yang dilaksanakan di Pura Bale Agung (Pura Desa).

Upacara Piksuji Daha Truna sangat unik, di antaranya diiringi tabuh gong slonding, dipentaskan tari Amblang-Amblangan dan medagang-dagangan.

Yang dipuja dalam upacara Piksuji Daha Truna ini adalah Ida Bhatara Ratu Mas Pahit yang berstana sebagai Ratu Slonding. Setiap tahunnya gong slonding ini tidak pernah sama jumlahnya.

Menurut Mangku Widana, upacara Piksuji ini sudah dilaksanakan secara turun-temurun. Masyarakat tidak tahu secara pasti sejak kapan dilaksanakan. Namun masyarakat meyakini bahwa upacara ini sangat sacral.

“Bila upacara Piksuji Daha Truna ini tidak dilaksanakan, diyakini akan terjadinya bencana alam dan hasil petanian akan menurun, karena penghasilan masyarakat sebagian besar sebagai petani,” katanya.

Ia menambahkan, upacara Piksuji Daha Truna ini sebagai ungkapan bakti dan ucapan terima kasih karena telah mendapatkan keselamatan dan perlindungan dan dari segi ekonomi hasil pertanian selalu baik dan subur.

Upacara Piksuji Daha Truna dilaksanakan di Pura Bale Agung (Pura Desa), tepatnya Purnamaning Kepitu,  karena Pura Bale merupakan bangunan suci saat melaksanakan upacara Dewa Yadnya.

Pura Bale Agung ini berfungsi untuk menghubungkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar mendapatkan asung kerta wara nugraha atau kerahayuan.

Pura Bale Agung juga sebagai tempat menyimpan benda-benda yang disucikan yang akan dipakai sebagai sarana dan prasarana saat upacara.

Alat-alat yang dipakai sebagai sarana dan prasarana dalam pelaksanaan upacara Piksuji Deha Truna biasanya disimpan di Gedong Penyimpenan yang ada di Pura Bale Agung (Pura Desa).

Proses ini tergolong unik. Sebab, truna membeli dagangan para daha dengan membayarnya memakai pis bolong atau uang kepeng.

Namun seiring kemajuan zaman, diganti dengan uang kertas. Hasil dari berjualan itu dihaturkan kepada Ida Bhatara.

“Uang kepengnya dihaturkan kepada Ida Bhatara Ratu Mas Pahit yang melinggih di gedong, sedangkan uang kertasnya dipakai untuk kas oleh pihak Daha Truna,” tutupnya.

Editor : Nyoman Suarna
#bali #unik #truna #Tokoh #tradisi #Daha #desa adat bantang #upacara piksuji