Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Makna Siwaratri yang Dirayakan Umat Hindu di Bali dan Hakikat Cerita Lubdaka

Putu Agus Adegrantika • Jumat, 5 Januari 2024 | 15:08 WIB

Umat Hindu sembahyang di Pura Agung Besakih, Karangasem, Bali saat rerahinan belum lama ini.
Umat Hindu sembahyang di Pura Agung Besakih, Karangasem, Bali saat rerahinan belum lama ini.
BALI EXPRESS- Umat Hindu di Bali akan merayakan Hari Suci Siwaratri pada Selasa, 9 Januari 2024.

Siwaratri salah satu hari baik yang menjadi momentum umat Hindu melaksanakan persembahyangan.

Siwaratri ini berasal dari bahasa Sanskerta yang terdiri dari dua kata yaitu “Siwa” dan “Ratri”. 

Siwa merupakan nama dari salah satu manifestasi Tuhan sebagai Dewa Pelebur, sedangkan Ratri berarti malam atau gelap. Hari Siwaratri jatuh pada panglong ping 14 sasih kapitu tepat sehari sebelum Tilem Kapitu. 

Penyuluh Agama Hindu di Bali Ni Luh Cesi memaparkan bahwa Siwaratri memiliki keistimewaan bagi umat Hindu.

Sebab, pada hari itu juga disebut sebagai hari “Pejagran” yang kurang lebih artinya hari kesadaran berdasarkan disebutkannya Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasainya Sang Hyang Siwa melakukan yoga semadi.

"Sehingga pada hari Siwaratri umat Hindu melakukan persembahan yadnya dan persembahyangan dengan tujuan menyucikan pikiran dan menumbuhkan kesadaran diri," jelasnya.

Hari Siwartri sering disebut sebagai malam penebusan dosa merujuk pada cerita “Sang Lubdaka” yang seorang pemburu binatang dan kesehariannya melakukan pembunuhan (himsa karma) tanpa sengaja tidak tidur pada malam Siwaratri karena harus menunggu hewan buruannya.

Lalu semua dosanya dilebur dan itu sudah cukup menghantarkannya ke surga.

Umpama air garam di dalam gelas, semakin banyak kandungan garam di dalam gelas maka rasa asinnya akan semakin kuat, tetapi apabila kandungan airnya diperbanyak terus maka rasa asin akan semakin berkurang sampai terasa tawar meskipun kandungan garamnya tetap ada. 

Garam atau asin sebagai asubhakarma dan air sebagai subhakarma. Pengendalian pikiran dan kesadaran diri membuat manuasi harus menentukan unsur mana yang harus diperbanyak.

Berdoa, sembahyang dan melakukan yadnya merupakan usaha melebur yang berphahala agar asubhakarma yang telah diperbuat dapat larut dalam subhakarma yang mendominasi. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
#Siwaratri #bali #hindu #Lubdaka