Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tidak hanya Memakai Banten, Ini Lima Cara Beryadnya Menurut Agama Hindu

Putu Agus Adegrantika • Kamis, 11 Januari 2024 | 16:58 WIB
PENYULUH : Penyuluh Agama Hindu, Ni Luh Cesi, menyebut beryadnya tidak hanya memakai sarana banten tetapi melalui lima cara.
PENYULUH : Penyuluh Agama Hindu, Ni Luh Cesi, menyebut beryadnya tidak hanya memakai sarana banten tetapi melalui lima cara.

BALI EXPRESS – Yadnya merupakan persembahan suci yang tulus ikhlas. Dalam agama Hindu, dalam beryadnya biasanya memakai sarana berupa banten.

Padahal menurut ajaran yadnya itu sendiri, apapun perbuatan yang dilakukan secara tulus ikhlas dan tanpa pamrih untuk kebahagiaan orang lain atau sesama makhluk hidup, disebut dengan beryadnya.

Penyuluh agama Hindu, Ni Luh Cesi, memaparkan tentang cara melaksanakan yadnya.

Menurutnya, terdapat lima cara dalam beryadnya sesuai buku Lima Cara Beryadnya yang ditulis oleh I Gusti Ketut Widana.

Pertama adalah Dewa Yadnya, yaitu beryadnya dengan persembahan berupa benda atau materi. Baik diwujudkan dalam bentuk banten, dana punia dan lainnya.

Kedua terdapat Tapa Yadnya, yaitu bersifat lebih individual. Karena dalam pelaksanaannya lebih menekankan usaha seseorang untuk melatih diri guna mempersatukan kembali Atma dengan Brahman.

“Caranya dengan selalu membersihkan dan menyucikan diri, mengatasi suka duka kehidupan. Menjauhkan segala macam godaan, mengendalikan nafsu, menangkap pikiran yang kesemuanya diarahkan menuju persatuan dengan-Nya,” imbuh Cesi.

Ketiga adalah Yoga Yadnya, juga bersifat individual karena berisi usaha dari seseorang untuk menghubungkan dan menyatukan diri dengan Hyang Widhi.

Cara Yadnya ini memerlukan latihan dan disiplin tinggi, yaitu dengan menjalankan atau mempraktekkan ajaran yoga sesuai aturan baik sadangga yoga maupun astangga yoga.

Keempat ada Swadhyaya Yoga   merupakan bentuk yadnya  dengan mengorbankan diri demi kepentingan yang lebih besar, mulia atau utama.

“Caranya relatif lebih mudah, bisa dengan melaksanakan suci laksana, melakukan Trisandhya tiga kali sehari,” tegas Cesi.

Editor : Nyoman Suarna
#beryadnya #Banten #hindu