Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Makingsan: Ritual Penguburan Jenazah Menurut Hindu Bali, Ini Makna dan Prosesinya

Putu Agus Adegrantika • Sabtu, 20 Januari 2024 | 15:18 WIB
MAKINGSAN: Dalam tradisi upacara kematian umat Hindu di Bali dikenal istilah makingsan. Upacara ini memiliki makna tertentu seperti dijelaskan dalam buku karya I Gusti Ketut Widana.
MAKINGSAN: Dalam tradisi upacara kematian umat Hindu di Bali dikenal istilah makingsan. Upacara ini memiliki makna tertentu seperti dijelaskan dalam buku karya I Gusti Ketut Widana.

BALI EXPRESS - Dalam tradisi upacara kematian umat Hindu di Bali khususnya, terdapat suatu prosesi yang disebut makingsan.

Prosesi makingsan ini diadakan ketika terjadi hambatan atau kelambatan dalam pelaksanaan upacara pengabenan seseorang.

Dipilihnya prosesi makingsan, salah satunya disebabkan oleh adanya upacara lain yang memerlukan suasana hati dan bhakti suci, seperti piodalan di pura.

Menurut penjelasan yang diambil dari buku "Lima Cara Beryadnya" karya I Gusti Ketut Widana, makingsan adalah suatu bentuk penguburan atau pembakaran jenazah secara darurat dan bersifat sementara.

Biasanya prosesi makingsan, tidak melibatkan upacara dan upakara  sebagaimana mestinya.

Ada dua jenis upacara makingsan, yaitu makingsan di geni dan makingsan di pertiwi.

Makingsan di geni mengacu pada menitipkan jenazah di setra melalui proses pembakaran.

Setelah proses pembakaran selesai, abu dan tulang belulang yang masih ada dimasukkan ke dalam periuk dan kemudian ditanam di tempat pembakaran tadi.

Sementara makingsan di pertiwi adalah menitipkan jenazah di setra dengan cara menguburkannya.

Karena bersifat sementara, baik makingsan di geni maupun makingsan di pertiwi akan dilanjutkan dengan upacara penguburan atau pembakaran jenazah yang lebih lengkap dengan upacara dan upakara yang sesuai dewasa.

Bagi yang melaksanakan makingsan di geni, setelah beberapa hari berlalu sejak upacara piodalan yang sebelumnya menunda upacara pengabenan, kini upacara tersebut dapat dilakukan.

Jenazah yang sudah tidak ada lagi, akan diaben dengan membuatkan pengawak sawa.

Sedangkan bagi yang melaksanakan makingsan di pertiwi, setelah beberapa waktu, kuburan akan digali kembali untuk mengambil tulang belulangnya.

Tulang belulang ini kemudian akan dibakar bersama dengan adegan sawa pada saat upacara pengabenan.

Beberapa juga tidak menggali kembali liang kubur, melainkan cukup dengan ngulapin ke setra yang memiliki makna memanggil roh sang mati untuk selanjutnya diaben.

Setelah ngulapin, liang kubur diratakan kembali yang disebut dengan nyapuh.

Salah satu keunikan dari sistem makingsan ini adalah pandangan bahwa orang yang meninggal dianggap sedang tidur, bukan mati.

Secara ritual, ada pula banten pengalang sasih yang bertujuan untuk menghalangi efek negatif bagi sang mati dan keluarganya, agar tidak menghambat piodalan yang berlangsung.

Dalam aspek sosial, pelaksanaan upacara makingsan tidak melibatkan anggota masyarakat atau krama desa, bahkan suara kulkul yang menjadi pertanda kematian pun tidak diperdengarkan.

Editor : Nyoman Suarna
#penguburan #bali #hindu #makingsan #tradisi #jenazah