BALI EXPRESS – Dalam perspektif Hindu, hidup akan selalu bergulir dan mengalami perubahan. Segala yang tampak dalam kehidupan manusia tidak akan kekal abadi. Semua bersifat dinamis, bukan statis.
Hal ini disebabkan oleh hukum rta yang menghendaki manusia maupun isi dunia untuk mengalami perubahan.
Manusia akan diikat oleh hukum perubahan yang nantinya mengantarkannya menemui fase hidup dalam bentuk lahir, hidup dan berkembang, serta berakhir pada kematian.
Hanya Tuhan sebagai pengendali semesta yang berada dalam keabadian.
Penyuluh Agama Hindu, I Made Danu Tirta, menjelaskan, realitas inilah yang menyebabkan lahirnya pandangan bahwa “perubahan adalah realitas kekal sesungguhnya”, mengingat perubahan akan selalu ada dan kekal abadi sifatnya.
Terkait dengan fase usia, maka manusia tidak akan tetap berada pada fase upasana (usia muda). Hukum perubahan yang mengikat manusia pada nantinya akan mengarahkan hidup manusia menuju fase usia selanjutnya, yakni masa tua.
“Kondisi ini menyebabkan masa muda adalah masa paling berharga bagi manusia, sebab menjadi usia produktif yang dapat menjadi penentu segalanya di masa tua,” jelasnya.
Setiap manusia yang saat ini sedang berada pada masa muda, secara berangsur akan disambut oleh masa dewasa dan tua.
Saat masa tua tiba, maka berbagai tantangan akan kembali mendatangi manusia.
Saat manusia memasuki masa tua maka akan terjadi berbagai palemahan diri secara fisik. \
Ketika masa tua datang, maka akan terjadi berbagai palemahan diri.
Hal ini disebutkan dalam Kitab Sarasamuscaya sloka 34.
Kitab Saramuscaya terbitan Ditjen Bimas Hindu ini mengatakan: “Lawan ta waneh, ikang upaśaman, rare ktikang sinanggah upaśama, apan jāting upaśama, yan katĕkan tuha, ri kṣayaning dhātu ngke ring śarīra, nāng wāta, pitta, ṣlesma.”
Terjemahannya:
Dan lagi tentang upaśama, masa muda itulah yang disebut upasama. Oleh karena sesungguhnya ketika masa muda didatangi masa tua, di sanalah ditandai dengan berkurangnya zat-zat, cairan, pernapasan dan semakin kendornya otot.
Sarasamuscaya Sloka 34 di atas menguraikan bahwa masa tua banyak ditandai oleh kelemahan secara fisik.
Tubuh manusia yang telah memasuki masa tua, sangat berbeda ketika manusia telah ada pada masa muda.
Saat usia muda, manusia cenderung memiliki kekuatan fisik yang stabil dan produktif. Namun ketika usia tua datang, tubuh manusia akan rentan terkena penyakit, melemah, dan tidak dapat diarahkan pada produktivitas.
“Oleh sebab itu, Sarsasamuscaya Sloka 34 juga mengatakan bahwa saat usia tua, tubuh manusia akan mengalami pengurangan zat, cairan, kemampuan bernafas, dan otot yang semakin kendor,” terang Danu.
Hal tersebut berdampak langsung bagi tubuh manusia. Ketika manusia kekurangan cairan, maka dia akan melemah, mudah lelah.
Terlebih lagi jika manusia mengalami gangguan pernafasan, maka segala aktivitas fisik sangat sukar dan terganggu untuk dilakukan.
Belum lagi jika otot yang merupakan saraf kerja tidak berfungsi, maka manusia tidak dapat berkarya dan berbuat sebagaimana pada usia muda.
Oleh karena masa muda tidak langgeng, maka pergunakanlah masa muda itu dengan baik.
Secara fisik, anak muda wajib menjaga kebugaran tubuh, kekuatan tulang, kesehatan organ dalam tubuh dan sebagainya.
Baca Juga: 7 Tips Ampuh Mengatasi Jerawat: Perubahan Gaya Hidup untuk Kulit Sehat
Masa muda tidak hanya diisi dengan menimba ilmu dan memperbanyak peluang kerja, namun juga wajib diselingi dengan pemeliharaan kesehatan.
Dengan demikian, tubuh akan lebih terlindungi dari penyakit dan pelemahan diri pada usia tua dan mencapai kedamaian fisik maupun spritual di pengujung usia.
Editor : Nyoman Suarna