BALI EXPRESS - Wanita selalu menarik untuk dibicarakan, sebab banyak hal menarik dapat diangkat. Salah satunya adalah perihal kerahasiaan sifat yang melekat dalam wanita.
Sejalan dengan itu, terungkap kecenderungan pola sikap daya pikir wanita dalam mempertahankan pesona diri, yakni kemampuan menjaga sesuatu hal yang bersifat misteri pada dirinya.
Wanita dalam pandangan agama Hindu memiliki peranan yang tidak terpisahkan dengan kaum pria dalam kehidupan masyarakat.
Sejak awal peradaban agama Hindu yaitu dari zaman Veda hingga dewasa ini, wanita senantiasa memegang peranan penting dalam kehidupan.
Hal tersebut diungkapkan oleh Penyuluh Agama Hindu, Ni Made Ayu Suniari.
Dia menerangkan bahwa ditinjau dari konsepsi ajaran agama Hindu dalam Siwa Tattwa, adanya kehidupan makhluk terutama manusia karena perpaduan antara unsur suklanita dan swanita.
“Tanpa wanita tak mungkin ada dunia yang harmonis. Demikianlah pentingnya kedudukan wanita dalam kehidupan ini,” jelasnya.
Dalam kitab Manawa Dharmasastra disebutkan bahwa kedudukan wanita itu sangat dimuliakan.
Hal ini diungkap dalam Bab III Sloka 55 bahwa wanita harus dihormati dan disayangi oleh ayahnya, kakak-kakaknya, suami dan ipar-iparnya yang menghendaki kesejahteraan sendiri.
Dalam kitab Manawa Dharmasastra Sloka 96 juga disebutkan, bahwa untuk menjadi ibu, wanita diciptakan. Dan untuk menjadi ayah, laki-laki diciptakan.
Karena itu, upacara keagamaan ditetapkan dalam veda untuk dilaksanakan oleh suami (pria) bersama istri (wanita).
Dalam kitab Manawa Dharmasastra Sloka 130 disebutkan, seorang anak sama dengan dirinya (orang tuanya). Karena itu seorang anak perempuan (wanita) sama dengan anak laki-laki.
Sloka ini menjelaskan bahwa seorang anak laki-laki maupun perempuan adalah sama, baik hak maupun kewajibannya.
Dalam kitab Manawa Dharmasastra Sloka 133 :
Tidak ada perbedaan antara anak laki-laki dengan anak perempuan (wanita) yang diangkat statusnya, baik yang berhubungan dengan masalah duniawi maupun masalah kewajiban suci, karena bagi ayah dan ibu mereka, keduanya lahir dari badan orang yang sama.
Baik yang berhubungan dengan masalah duniawi maupun terhadap kewajiban spirituil, sama saja tugas yang harus dijalankan oleh seorang putrika sebagai anak laki-laki. Kewajiban spiritual atau kewajiban suci yaitu kewajiban yang dilakukan sesuai menurut kitab suci Weda.
Dalam Manawa Dharmasastra Sloka 139 :
Antara cucu anak laki-laki dan cucu anak perempuan yang ada di dunia ini tidak ada perbedaan, karena cucu laki-laki dari anak perempuan menyelamatkannya (yang tidak punya keturunan) di dunia yang akan datang seperti cucu anak laki-laki.
Jika memperhatikan sloka-sloka di atas, sebutnya, dapat disimpulkan bahwa wanita dan pria mempunyai kedudukan yang sama dalam segala aspek kehidupan masyarakat maupun dalam kegiatan-kegiatan upacara keagamaan.
Sehingga dalam membina kehidupan keluarga, masyarakat, nusa dan bangsa keduanya hendaknya seimbang dan serasi.
Peranan wanita dalam segala aspek kehidupan baik dalam kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa amat penting, di samping peran pokoknya sebagai ibu rumah tangga, sekaligus sebagai pendidik dalam keluarga.
Manawa Dharmasastra juga menyebutkan bahwa wanita dinyatakan sebagai sumber kebahagiaan dan kesejahteraan. Dalam kitab Manawa Dharmasastra Bab III
Sloka 55 : Wanita harus dihormati dan disayangi oleh ayah-ayahnya, kakak-kakaknya, suami dan ipar-iparnya yang menghendaki kesejahteraan sendiri.
Berdasarkan sloka ini, kedudukan wanita di dalam hukum Hindu sangat diistimewakan dan harus dihormati.
Wajib hukumnya bagi orang tuanya, saudara lakinya, suaminya, anaknya untuk tetap menghormati dan melindungi wanita itu.
Dalam pelaksanaan upacara keagamaan, wanita memegang peranan penting untuk mempersiapkan sarana upacara (banten). Bagi wanita Hindu, membuat banten atau mejejahitan merupakan pekerjaan yang tidak dapat terpisahkan dari dirinya.
Hal ini dapat dilihat pada pelaksanaan upacara, dimana kaum wanita sudah sibuk mempersiapkannya.
Karena bagi wanita Hindu, membuat banten bukan perbuatan yang menghayal dan sia-sia, karena setiap jenis banten merupakan perwujudan atau simbol tertentu dalam persembahan.
Editor : Nyoman Suarna