Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Hindu Bali: Ini Mantra Sesapa Khusus pada Hari Tumpek Bubuh, Berikut Maknanya

I Putu Mardika • Minggu, 28 Januari 2024 | 17:48 WIB
MANTRA: Dalam perayaan Tumpeg Bubuh terdapat mantra atau sesapa yang diucapkan saat menghaturkan banten kepada tumbuh-tumbuhan sesuai tradisi Hindu Bali.
MANTRA: Dalam perayaan Tumpeg Bubuh terdapat mantra atau sesapa yang diucapkan saat menghaturkan banten kepada tumbuh-tumbuhan sesuai tradisi Hindu Bali.

BALI EXPRESS – Saat menghaturkan benten kepada tumbuh-tumbuhan disertai memukul batang pohon sebanyak 3 kali, biasanya diiringi mantra dalam bahasa Bali yang disebut sesapa.

Sesapa tersebut berbunyi, “Kaki-kaki, dadong jumah, tiyang mepengarah buin selae dina galungan apang mebuah nged....nged...nged.....”. 

Rupanya, sesapa tersebut sarat akan makna.

Dikatakan Jro Ketut Utara, ungkapan tersebut bermakna bahwa tumbuh-tumbuhan dianggap sebagai kaki (kakek).

Ini berarti bahwa tumbuh-tumbuhan pertama kali diciptakan oleh Tuhan sehingga dianggap sebagai saudara yang lebih tua dari manusia.

Mantra tersebut merupakan bahasa sederhana dari masyarakat Hindu untuk mengutarakan permohonannya memanfaatkan hasil alam untuk sarana upacara yajña maupun untuk dikonsumsi.

Tumbuh-tumbuhan dipanggil dengan sebutan kaki (kakek) dan dadong (nenek) sebagai bentuk penghormatan karena tumbuhan dianggap sebagai sosok tetua yang mengayomi kehidupan umat manusia.

“Makanya, saat ucapkan sesapa ada permohonan yang tertuang dalam kalimat mabuah nged-nged,” paparnya.

Kalimat ini menjadi ungkapan permohoan kepada alam agar tersedia berbagai kebutuhan yang digunakan sebagai pelengkap atau persembahan dalam menyambut hari Galungan.

Orang tua juga identik dengan makanan berupa bubur sehingga. penggunaan sarana bubur sebagai bahan banten juga berkaitan dengan penggambaran tumbuh-tumbuhan sebagai sosok tetua tersebut.

Bubur adalah sari makanan yang bertekstur lembut sehingga mudah dicerna.

Kemudian penggunaan bubur yang dibuat serta dihaturkan saat Tumpek bubuh berwujud warna merah serta putih.

Bubur bercorak merah ialah lambang purusa (maskulin), sebaliknya bubur bercorak putih ialah lambang pradana (feminim). Penyatuan kedua hal inilah menimbulkan lahirnya kehidupan.Baca Juga: Tradisi Hindu Bali: Ini Banten untuk Perayaan Hari Tumpek Bubuh Berikut Maknanya

“Itulah alasan mengapa sarana bubur saat Tumpek Wariga tak bisa diganti dengan sarana lain, seperti ayam goreng atau bebek presto yang memiliki makna berbeda,” paparnya.

Saat pelaksanaan upacara Tumpek Wariga, umat Hindu tidak boleh memotong pohon, memetik bunga, buah dan daun.

Hal ini sebagai bentuk penghormatan agar senantiasa menjaga kelestariannya.

Editor : Nyoman Suarna
#bali #hindu #sesapa #mantra #tradisi #tumpek bubuh