BALI EXPRESS - Tumpek Wariga atau Tumpek Bubuh merupakan hari suci umat Hindu untuk menghormati makhluk hidup, khususnya tumbuh-tumbuhan.
Tumpek Bubuh juga disebut Tumpek Wariga, Tumpek Uduh atau Tumpek Pengatag yang dirayakan setiap 6 bulan sekali pada hari Saniscara (Sabtu) Kliwon, wuku Wariga, tepat 25 hari sebelum Hari Raya Galungan.
Menurut Jero Mangku Dalang Pasek Denpasar, I Wayan Gunawan, Tumpek Bubuh merupakan hari pemujaan kepada manifestasi Ida Hyang Widhi sebagai Sang Hyang Sangkara, penguasa tumbuh-tumbuhan,
“Pada hari ini umat Hindu menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan atas kesuburan tanaman hingga tumbuh baik dan menghasilkan buah atau bunga lebat," paparnya.
Adapun upakara yang dipersembahan kepada Sang Hyang Sangkara adalah canang dan bubur dari tepung beras.
"Bubur tersebut ditempelkan di pohon setelah ditoreh sedikit, sembari mengucapkan sesapa," ucapnya.
Sesapa yang diucapkan sebagai berikut, "Kaki kaki, Nini nini, Sarwa tumuwuh. Niki tiyang ngaturin bubuh mangda ledang tumbuh subur, malih selae lemeng Galungan. Mabuah apang nged, nged, nged..."
"Makna hari suci ini adalah untuk memohon anugerah kepada Sang Hyang Sangkara agar memberikan kesuburan kepada tumbuh-tumbuhan sehingga dapat berbunga, berbuah, berdaun lebat, dan menjadi sumber kehidupan bagi umat manusia," imbuh Jero Gunawan.
Makna Tumpek Uduh adalah menumbuhkan pikiran dan batin yang esoterik melalui simbol pemberdayaan kekuatan cakra api di dalam diri. Sebagai upaya menghadang pengaruh pikiran dan perasaan hati yang buruk.
Lontar Tutur Bagawan Agastyaprana dan Lontar Sudharigama menyebutkan,
“Wariga Saniscara Kliwon, ngaran panguduh pujawali Sanghyang Sangkara, apan sira amrtaken sarwaning tawuwuh, kayu-kayu kunang, widhi-widhanana, pras tulung, sesayut, tumpeng, bubur mwang tumpeng agung iwak nia guling bawi, itik wenang, saha raka, penyeneng, tetabuh, kalinggania anguduh ikang awoh mwang godong, dadya pamrtaning hurip ring manusa. Sesayut cakragni kalinggania anuduh kna adnyana sandhi."
Baca Juga: 12 Sifat Atman Menurut Hindu: Bhagawad Gita Sebut Seperti Ini
Terjemahannya :
Wuku wariga yakni pada hari Saniscara Kliwon, disebutlah hari panguduh. Suatu hari untuk memuja Sanghyang Sangkara, sebab Beliaulah yang menciptakan segala tumbuh-tumbuhan termasuk kayu-kayuan.
Editor : Nyoman Suarna