Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ini Motif Kain Gringsing Desa Tenganan Bali, Ada yang Nyaris Punah karena Sesuatu Hal

I Putu Mardika • Selasa, 6 Februari 2024 | 17:48 WIB
MOTIF: Motif kain tenun Gringsing di Desa Tenganan Bali ada berbagai macam. Namun ada yang nyaris punah karena tak populer dan jarang dibuat.
MOTIF: Motif kain tenun Gringsing di Desa Tenganan Bali ada berbagai macam. Namun ada yang nyaris punah karena tak populer dan jarang dibuat.

BALI EXPRESS - Dalam perkembangannya, motif motif kain tenun gringsing di Desa Tenganan, Karangasem, Bali  telah banyak mengalami evolusi dan inovasi.

Hal ini sejalan dengan kemajuan pengetahuan penggambaran motif dan teknologi menenun.

Motif kain tenun Tenganan Pegringsingan, antara lain lubeng. Motif ini menyerupai binatang kalajengking. Kain tenun ini digunakan untuk upacara keagamaan.

Motif lubeng ada beberapa jenis, yakni lubeng luhur yang ukurannya lebih panjang dan lubeng petang dasa dan lubeng petang likur.

Semua jenis lubeng tersebut berangkat dari hitungan angka.

Selanjutnya adalah motif cecempaka atau bunga cempaka. Kain tenun ini difungsikan untuk upacara adat keagamaan.

Jenis cecempaka terdiri dari cempaka petang dasa, cempaka putri, cempaka empat likur.

Kemudian motif cemplong, yaitu motif yang menggambarkan  antara bunga-bunga kecil dan bunga besar. Di antara kedua bunga tersebut ada kekosongan yang dinamakan cemplong.

Kain gringsing cemplong berfungsi sebagai busana adat dan upacra agama.

Motif ini terdiri dari empat likur (24) senteng enteng yang digunakan kaum perempuan untuk melilit pinggang dengan ukuran petang dasa.

Ada pula motif sanan empeng, yaitu berupa tiga bentuk kotak-kotak/merah, kuning, hitam.

Kain gringsing ini digunakan untuk upacara adat, keagamaan dan sebagai pelengkap sesajian bagi masyarakat.

Motif gringsing isi yaitu motif yang tidak ada ruang kosongnya. atau semua terisi dengan motif. Fungsinya untuk kain sarana upacara dan ukurannya hanya ada pat likur.

Motif wayang terdiri dari wayang kebo dan wayang putri. Motif ini sudah jarang dibuat karena kesulitan dalam pengerjaaan dan memakan waktu sampai lima tahun.

Motif wayang ini terdiri dari dua warna hitam sebagai latar belakang dan putih sebagai garisnya.

Motif wayang kebo dipakai saat upacara keagamaan, tetapi tak banyak yang punya.

Motif bungan tuwung adalah motif yang paling populer di kalangan masyarakat karena mudah dibuat. Motif ini menggambarkan buah terong (bungan tuwung).

Ukuran kain gringsing ini tidak begitu lebar karena digunakan untuk “senteng” (selendang/ ikat pinggang) bagi kaum perempuan.

“Motif ini tidak begitu laku di pasaran sehingga jarang dibuat dan kini nyaris punah,” imbuhnya.

Bahan-bahan yang dipakai untuk membuat kain tenun gringsing berasal dari alam. Namun masyarakat tetap menjaga agar tidak merugikan hutan di Tenganan Pegringsingan.

Untuk bahan pengawet dan pewarnaan, misalnya, dibutuhkan buah kemiri, tetapi yang dipakai adalah buah kemiri yang sudah matang dan jatuh dari pohonnya.

“Buah kemiri dan jenis pohon lain seperti tehep, keluak, kemiri, dan durian, walaupun tumbuh di atas tanah milik individu, pemilik tidak boleh memetik dan membiarkan sampai buahnya jatuh dari pohon,” paparnya. ***

Editor : Nyoman Suarna
#punah #bali #Motif #tenun #Gringsing #kain #Desa Tenganan