Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sakral dan Menegangkan, Tradisi Siat Api di Duda Karangasem Kembali Digelar

I Wayan Adi Prabawa • Jumat, 9 Februari 2024 | 02:45 WIB
SIAT API: Warga Desa Adat Duda, Kecamatan Selat, Karangasem melaksanakan tradisi Siat Api di Jembatan Tukad Sangsang, desa setempat, pada Kamis (8/2).
SIAT API: Warga Desa Adat Duda, Kecamatan Selat, Karangasem melaksanakan tradisi Siat Api di Jembatan Tukad Sangsang, desa setempat, pada Kamis (8/2).

 

KARANGASEM, BALI EXPRESS - Desa Adat Duda, Kecamatan Selat, Karangasem, memiliki tradisi yang sangat di sakralkan dan hingga kini masih dilestarikan.

 

Seperti salah satunya adalah Siat Api. Pada Kamis (8/2), tradisi itu kembali diselenggarakan di Jembatan Tukad Sangsang yang menjadi pembatas antara Desa Duda dan Duda Timur.

 


Tradisi ini dilaksanakan satu bulan menjelang berlangsungnya Usaba Dalem di desa setempat. Sesuai namanya, dalam melangsungkan Siat Api krama atau warga laki-laki dibagi menjadi dua kelompok. Keduanya nantinya saling serang menggunakan daun kelapa tua yang di ikat atau sebutan disana adalah prakpak dalam kondisi berisikan api.


Pelaksanaan kali ini pun terlihat sangat meriah, karena sebelum dilangsungkan Siat Api, lebih dulu di pentaskan fragmen tari yang berjudul Hyang Baka Gni. Tak ayal banyak masyarakat yang datang untuk menyaksikan jalannya prosesi ini. Bahkan itu tidak berasal dari Desa Duda saja, melainkan ada pula warga luar.

 

 


Bendesa Adat Duda, I Komang Sujana menjelaskan, Siat Api ini dilaksanakan rutin setiap satu tahun sekali. Prosesi ini bertujuan untuk menetralisir atau membersihkan skala dan niskala. Agar, dalam melaksanakan Usaba Dalem, masyarakat maupun alam disana stabil. “Supaya usaba dalem berjalan dengan labda karya,” ujarnya.


Sekalipun harus berperang dengan menggunakan api, masyarakat yang mengikuti prosesi ini tidak ada dendam sedikitpun. Sekalipun tidak ada settingan dalam pelaksanaan Siat Api ini. “Meskipun api mengenai badan para peserta yang ikut, tidak ada dendam yang terjadi setelah acara ini selesai,” tandasnya.


Sujana pun menjelaskan, masyarakat yang mengikuti siat api itu adalah krama desa setempat. Sebelum terlaksana, peserta lebih dulu di daftar. Tujuannya untuk memastikan yang bersangkutan tidak dalam kondisi cuntaka atau yang lain.

 

“Agar betul-betul yang bersih skala dan niskala, tidak cuntaka, cacat, atau yang lain,” jelasnya. (*)

Editor : I Dewa Gede Rastana
#bali #sakral #siat api #Netralisir #karangasem #tradisi