BALI EXPRESS - Kain tenun cag cag khas desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Buleleng, Bali biasanya dipasarkan di lingkungan desa.
Menurut Bendesa Adat Sembiran Nengah Arijaya, selain dipasarkan di lingkup desa, perajin tenun juga kerap mendapatkan pesanan kelompok dari organisasi-organisasi pemerintah ataupun swasta di luar kota.
“Kain tenun cag cag yang dibeli biasanya digunakan untuk acara-acara resmi atau digunakan sebagai seragam oleh para anggota suatu organisasi. Ini yang membuat kami tetap memproduksi,” imbuh Arijaya.
Para perajin kain tenun cag cag di Desa Sembiran tidak memasarkan produknya atau melakukan penjualan secara online (olshop). Karena pelanggan dari luar kota biasanya langsung memesan ke perajin.
Selain itu, perajin tenun cagcag juga acapkali mendapatkan pelatihan dari organisasi pemerintah.
Tidak jarang, para perajin juga mendapatkan bantuan berupa alat tenun cagcag dari pemerintah.
“Untuk harga, pelanggan yang membeli dalam jumlah banyak akan mendapatkan diskon dari perajin,” ungkapnya.
Menurutnya, para perajin tenun ikat khas Desa Sembiran berharap agar pengetahuan tentang keunikan kain tenun ikat dari Sembiran lebih tersebar luas.
Sebab, saat ini kekhasan kain ini masih belum banyak diketahui oleh masyarakat umum.
Proses pembuatan kain tenun yang memakan waktu berhari-hari, berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan menyebabkan harga kain ini cukup mahal.
Hal ini dapat berdampak pada produktivitas dan keberlanjutan kerajinan tenun tersebut.
Selama ini, pengerajin tenun cag cag di Desa Sembiran membeli benang yang sudah menggunakan pewarna sintetis dari Klungkung.
Artinya, kain tenun cag cag khas Desa Sembiran tidak lagi melalui proses pewarnaan.
Butuh waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan kain tenun. Bahkan, proses pembuatan kain tenun tradisional dapat memakan waktu berbulan-bulan.
Tak mengherankan, harganya cukup mahal karena prosesnya membutuhkan kesabaran dan ketekunan yang tinggi.
Editor : Nyoman Suarna