Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Diperlakukan seperti Ibu Hamil: Tradisi Upacara Padi di Bali Persembahkan Rujak dan Obat-obatan hingga Alat Melahirkan

I Putu Mardika • Kamis, 15 Februari 2024 | 18:53 WIB
IBU HAMIL: Upacara untuk padi di Bali mirip seperti memperlakukan ibu yang sedang hamil, diberi rujak, obat-obatan hingga alat untuk melahirkan.
IBU HAMIL: Upacara untuk padi di Bali mirip seperti memperlakukan ibu yang sedang hamil, diberi rujak, obat-obatan hingga alat untuk melahirkan.

BALI EXPRESS - Setelah padi ditanam, kewajiban seorang petani adalah memelihara tanaman itu sampai tiba saatnya untuk panen.

Pemeliharaan padi itu adalah suatu hal yang sangat penting karena merupakan makanan pokok manusia.

Dosen Ilmu Budaya STAHN Mpu Kuturan Singaraja, I Gusti Agung Ngurah Agung Yudha Pramiswara, M.Si, mengatakan, proses memelihara padi disamakan dengan manusia, dimulai dari masa kecil, dewasa, ngidam, hamil, melahirkan, dan seterusnya.

Karena itu ada tahapan upacara yang dilakukan sesuai tradisi Hindu di Bali. Misalnya paska tanam, dilaksanakan  Ritual Mubuhin.

Upacara ini dilaksanakan beberapa hari setelah ritual nandur atau saat padi berumur kurang lebih 12 hari.

Adapun wujud ritualnya adalah mempersembahkan canang dan bubur. Bubur merupakan makanan untuk bayi, sehingga padi yang baru berumur 12 hari dianggap sama dengan bayi yang baru lahir.

Sedangkan canang adalah lambang Tuhan sebagai Tri Murthi, yaitu Brahma, Wisnu, dan Siwa.

Ritual mubuhin merupakan sebuah harapan agar tanaman padi yang juga disebut Dewi Sri bisa hidup sehat atau tumbuh dengan baik atas izin Tuhan sebagai Sang Hyang Tri Murthi.

Setelah mubuhin dilanjutkan dengan ritual mabahin. Upacara ini dilaksanakan saat padi sudah tumbuh buah secara merata.

Ritual itu dilaksanakan di dekat pengalapan, dengan alas tikar atau sejenisnya. Upacara dilaksanakan dengan menghaturkan ketupat sirikan dengan lauk ayam panggang, buah-buahan, dan berbagai jenis ubi.

Upacara ini diandaikan dengan padi yang masih balita, harus diberikan makanan bergizi seperti ketupat (nasi), daging ayam, dan buah-buahan.

Upacara mabahin ditujukan kepada Tuhan sebagai Sedan Carik, dengan harapan agar tanaman padi yang sedang berbuah bisa selamat hingga dipanen.

Ritual yang dilaksanakan saat padi itu sudah hamil disebut Ngiseh atau sering juga disebut biu kukung atau byakukung.

Ritual ini diibaratkan seperti memberlakukan seorang ibu yang sedang ngidam atau hamil dan persiapan untuk melahirkan sehingga dihaturkan rujak, ubi dan obat-obatan.

Dalam ritual itu juga dipersembahkan alat-alat untuk melahirkan, seperti pisau dari bambu, kulit telor, kunir, dan benang.

Pisau digunakan untuk memotong ari-ari, kulit telor sebagai tempat ari-ari, kunir sebagai obat luka, dan benang untuk mengikat tali pusar.

Celekontongan yang terbuat dari kaleng dimaksudkan sebagai tempat segala macam obat untuk keperluan melahirkan.

Pisau dari bambu dalam bahasa Bali disebut ngeed yang berarti lebat. Maksudnya adalah agar padi berbuah lebat.

Ada juga penggunaan Kronjo sebagai tempat sajen yang terbuat dari anyaman daun kelapa berbentuk bundar, sebagai lambang padi yang sedang bunting.

Hal itu tercermin dari bentuknya yang bundar layaknya orang yang sedang hamil.

Ritual ngiseh atau byakukung mengandung makna mohon keselamatan agar padi yang sedang hamil dan siap untuk melahirkan terhindar dari marabahaya.

Ritual ngulapin dimaksudkan sebagai ritual pembersihan secara bathin terhadap tanaman padi setelah penyiangan rumput yang pertama dilakukan.

Pada saat petani menyiangi rumput di sela-sela tanaman padi dengan tidak sengaja tangan atau kaki mereka akan menyentuh atau mengkoyak-koyaknya, sehingga tanaman padi menjadi sedikit bergeser dari tempat semula.

“Kalau diandaikan sebagai manusia, padi itu telah mengalami kecelakaan sehingga bisa mengalami stress, pusing, sakit, kotor, dan sebagainya,” paparnya.

Oleh karena itu perlu dinormalkan dengan ritual ngulapin. Adapun wujud ritualnya dengan mempersembahkan ketupat, daksina, sampiyan sangga urip, punjung, tumpeng, tulung sayut, lis, peras, penyeneng.

Selain ritual-ritual yang berhubungan dengan pemeliharaan tanaman padi, petani di Bali juga melaksanakan ritual-ritual lainnya yang tidak kalah pentingnya, seperti neduh atau nangluk mrana.

Ritual neduh atau nangluk mrana tersebut banyak macamnya, seperti penulak paksi, penulak bikul, penulak walang sangit, candang, lanas, dan mati muncuk. ***

HUMANIS: Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo (baju putih) menyapa warga saat melakukan kunjungan ke TPS 05, Desa Babbalan, Kecamatan Batuan, Rabu (14/2).
HUMANIS: Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo (baju putih) menyapa warga saat melakukan kunjungan ke TPS 05, Desa Babbalan, Kecamatan Batuan, Rabu (14/2).
Editor : Nyoman Suarna
#padi #bali #ibu #upacara #Obat-obatan #alat #melahirkan #hamil #tradisi #rujak