BALI EXPRESS - Desa Cempaga, Kecamatan Banjar, Buleleng, Bali, adalah rumah bagi sejumlah tradisi kuno yang kaya akan makna dan kedalaman spiritual.
Di tengah-tengah kehidupan yang didominasi oleh kesibukan pertanian dan kegiatan sehari-hari, ritual dan upacara adat masih dijaga dengan penuh kehormatan dan dedikasi.
Setiap upacara yang dilangsungkan warga Desa Cempaga, baik itu yang bersifat keagamaan, budaya, atau sosial, memiliki satu hal yang sama: penggunaan tirta atau air suci.
Tirta ini dianggap sebagai simbol kesucian dan keberkahan, serta menjadi sarana utama untuk membersihkan diri secara spiritual sebelum mengikuti ritual.
Salah satu aspek unik dari tradisi ini adalah keterkaitannya dengan dua sumber mata air khusus di desa tersebut, yang dikenal sebagai Pura Buangga dan Kayehan Desa.
Kedua mata air ini memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan spiritual dan adat masyarakat Cempaga.
Menurut Kelian Adat Cempaga, Putu Karya Darma, kedua mata air tersebut bukan sekadar sumber air biasa, melainkan merupakan pusat spiritualitas dan keberkahan yang telah dihormati dan digunakan oleh penduduk setempat secara turun-temurun selama berabad-abad.
Pura Buangga, misalnya, digunakan khusus untuk upacara Dewa Yadnya, sementara Kayehan Desa merupakan tempat yang dipilih untuk pelaksanaan upacara Manusa Yadnya.
Dalam konteks kehidupan masyarakat Cempaga, upacara merupakan sebuah peristiwa yang dijalani dengan kesadaran spiritual mendalam.
Air dari kedua mata air tersebut dianggap sebagai media yang memungkinkan mereka untuk berhubungan secara langsung dengan alam spiritual dan dewa-dewa yang disembah.
Upacara ritual tidak terlepas dari kegiatan sehari-hari di desa tersebut. Baik itu upacara besar seperti Muayon atau Sabha Kuningan, maupun upacara kecil yang dilakukan secara pribadi di rumah tangga.
Penggunaan tirta dari Pura Buangga dan Kayehan Desa selalu menjadi bagian integral dari keseluruhan prosesi.
Namun, dalam dinamika kehidupan modern, beberapa warga mungkin juga mencari tirta dari sumber lain, seperti gria, terutama ketika mereka melaksanakan upacara Dewa Yadnya di rumah.
Meski demikian, prosesi pamuputan, atau penyucian, tetap menjadi tanggung jawab Jero Mangku Balian Desa, yang dianggap sebagai pemimpin spiritual masyarakat.
Di sisi lain, upacara Manusa Yadnya, yang melibatkan hubungan antara manusia dan leluhur atau roh nenek moyang, menggunakan air suci dari Kayehan Desa sebagai sarana untuk membersihkan diri secara spiritual sebelum upacara dimulai.
Tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan Pura Buangga dan Kayehan Desa sangatlah vital bagi keberlangsungan tradisi dan ritual masyarakat Cempaga.
Kehadiran mereka bukan hanya sebagai sumber air, tetapi juga sebagai penjaga kepercayaan dan kebudayaan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Dalam konteks yang lebih luas, tradisi penggunaan tirta dalam ritual masyarakat Cempaga mencerminkan hubungan yang dalam antara manusia dan alam, serta keberadaan spiritual yang terus hidup dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas dan keberadaan mereka, Pura Buangga dan Kayehan Desa tetap menjadi tempat suci yang didambakan dan dihormati oleh seluruh masyarakat Cempaga, yang terus berusaha untuk menjaga dan memelihara warisan spiritual mereka dengan penuh pengabdian dan kebanggaan. (*)
Editor : Nyoman Suarna