BALI EXPRESS - Usaba Sumbu menjadi salah satu tradisi unik yang dilaksanakan masyarakat Desa Adat Timbrah, Desa Pertima, Kecamatan/Kabupaten Karangasem, Bali.
Usaba Sumbu yang dikenal dengan persembahan ribuan babi guling ini memiliki rangkaian upacara yang cukup banyak, serta durasi waktu penyelenggaraan yang cukup panjang.
Kelian Adat Timbrah, Wayan Gunaksa mengatakan, pelaksanaan Usaba Sumbu dari prosesi awal hingga akhir memakan waktu satu minggu.
Rangkaian upacara ini diawali dengan melasti ke pantai hingga hari terakhir penyineban.
Prosesi melasti dilakukan di pantai (Pasih Kelod) yang berlokasi di Desa Bugbug.
Iring-iringan masyarakat Desa Adat Timbrah menuju pantai ini dilakukan dengan berjalan kaki.
Perjalanan menuju pantai menempuh jarak tujuh kilometer dengan membawa jempana dari masing-masing sesuhunan yang dipercaya oleh masyarakat Desa Adat Timbrah.
Tiga hari setelah pemelastian, masyarakat Desa Adat Timbrah melakukan Aci Usaba Sumbu yang disebut dengan Usaba Kaja.
Pada Usaba Kaja inilah Sumbu yang menjadi ikon pada upacara ini diritualkan.
“Pada pagi hari sebelum pelaksanaan Aci Usaba Kaja masyarakat Desa Adat Timbrah menyiapkan segala upacara dan persembahan yang akan mereka bawa ke pura,” kata Wayan Gunaksa.
Salah satunya adalah babi guling. Setiap rumah di Desa adat Timbrah sejak dini hari telah mempersiapkan pengolahan babi menjadi bagi guling.
Gunaksa menyebut, membuat babi guling merupakan salah satu keunikan dalam Usaba Sumbu.
Sebab jumlahnya yang sangat banyak, bahkan bisa menembus lebih dari 1.000 ekor babi guling yang dipersembahkan seluruh masyarakat Desa Adat Timbrah.
“Masyarakat membuat bagi guling dalam jumlah besar secara bersama-sama. Proses membuat babi guling menjadi jauh lebih luas ketimbang hanya proses kuliner semata,” ungkapnya. (*)
Editor : Nyoman Suarna