Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Nylampar di Desa Adat Ababi Karangasem Bali: Upaya Hilangkan Sifat Buruk dengan Cara Unik Ini

I Putu Mardika • Kamis, 7 Maret 2024 | 16:11 WIB
NYLAMPAR: Tradisi Nylampar di Desa Adat Ababi, Karangsasem Bali sebagai upaya meminimalisir bahkan menghilangkan sifat buruk rajas dan tamas warga desa.
NYLAMPAR: Tradisi Nylampar di Desa Adat Ababi, Karangsasem Bali sebagai upaya meminimalisir bahkan menghilangkan sifat buruk rajas dan tamas warga desa.

BALI EXPRESS - Desa Adat Ababi, Kecamatan Abang, Karangasem, Bali memiliki sebuah tradisi bernama Nylampar untuk hilangkan sifat buruk warga. 

Nylampar merupakan kegiatan menangkap ayam dengan cara melempari ayam yang ada di jalan dengan menggunakan kayu atau benda lainnya.

Bendesa Adat Ababi, I Gede Pasek Ariana menjelaskan, tradisi Nylampar  dilaksanakan pada pagi hari, tepatnya empat hari sebelum puncak karya yang dilaksanakan di Pura Kedaton/Ulun Suwi dan Pura Dalem.

Prosesnya, krama desa atau pengempon berjalan menyusuri jalan di sekitar wilayah Desa Ababi untuk mendapatkan ayam selamparan.

Jika salah seorang dari krama atau pengempon mendapatkan ayam, maka ayam tersebut dibawa ke Pura Puseh.

“Ayam itu diserahkan kepada kelian pangemong aci. Bersamaan dengan itu, kentongan (kulkul) di Pura Puseh dibunyikan sebagai pertanda bahwa kegiatan nylampar sudah berakhir,” katanya.

Apabila ada warga mendapatkan ayam setelah kentongan (kulkul) berbunyi maka ayam tersebut harus dilepas kembali.

Menurutnya, bukan tanpa pertimbangan mengapa ayam dijadikan sasaran nylampar.

Karena ayam merupakan simbol sifat rajas (aktif). Sifat ini ditandai dengan sifat suka bertengkar dan berbuat sekehendak hati.

Menurutnya, manusia semenjak lahir memiliki sifat dasar yang disebut dengan Tri Guna, yang terdiri dari satwam, rajas, dan tamas.

Ketiga sifat ini terdapat pada semua orang, namun intensitasnya berbeda-beda.

Ayam dalam tradisi Nylampar merupakan simbol dari sifat rajas, tamas atau sifat buruk manusia yang harus diminimalisir atau dihilangkan.

“Harapannya agar sifat-sifat krama Desa Ababi lebih dominan dikuasai oleh sifat sattwam,” katanya.

Ayam hasil selamparan disembelih, darahnya diambil dengan menggunakan alas tempurung kelapa (kau-kau), lalu ditempaatkan di Sanggah Kliwon.

Sanggah Kliwon terbuat dari anyaman bambu yang disebut klatkat, berbentuk segi tiga (bucu telu). Sanggah Kliwon ditancapkan di setiap pertigaan jalan dan perempatan di wilayah Desa Ababi.

Di pertigaan jalan dipersembahkan ke hadapan Sang Catur Warna, sedangkan yang diperempatan jalan dipersembahkan ke hadapan Sang Sapu Jagat.

Selain itu, Sanggah Kliwon juga ditancapkan di depan semua pura yang menjadi emponan Desa Ababi.

Di antaranya Pura Rajapati, Pura Ayu, Pura Beji, Pura Kedaton, Pura Sang Sega, Pura Melanting, Pura Pasucian, Pura Gedong Jro Ketut, Pura Dalem, Pura Puseh.

Apabila Sanggah Kliwon tersebut sudah ditancapkan, itu menandakan bahwa upacara ngejaga sudah akan dilaksanakan.

Setelah itu masyarakat dapat mempersiapkan diri untuk menyambut upacara, baik persiapan materi maupun kesiapan diri. (*)

Editor : Nyoman Suarna
#bali #sifat buruk #ababi #karangasem #desa #tradisi #nylampar