Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mengungkap Keunikan dan Jenis Segehan bagi Umat Hindu di Bali

I Putu Suyatra • Minggu, 10 Maret 2024 | 03:10 WIB

Segehan Kepel yang digunakan untuk sehari hari, seperti Kajeng Kliwon.
Segehan Kepel yang digunakan untuk sehari hari, seperti Kajeng Kliwon.

BALI EXPRESS - Dalam ritual dan upacara keagamaan Hindu di Bali, Segehan bukan sekadar hidangan, melainkan simbol keberagaman dan kekayaan tradisi.

Jenis-jenis Segehan seperti Segehan Kepel, Segehan Cacahan, hingga Segehan Agung, memaparkan kisah unik dari setiap sajian yang disajikan umat Hindu di Bali.

Dari perubahan warna hingga perlengkapan yang digunakan, setiap detail menunjukkan makna mendalam.

Mari kita telusuri lebih jauh tentang ritual penuh warna dan rasa ini, yang tidak hanya memuaskan lidah, tetapi juga memperkaya jiwa.

Jenis-jenis Segehan Umat Hindu di Bali:

1. Segehan Kepel

Sebagai alasnya dipakai sebuah "taledan" (tangkih) daun pisang.

Di atasnya diisi dua kepel nasi putih, ikannya bawang, jae, dan garam.

Di atasnya dilengkapi dengan sebuah canang genten/canang biasa.

Mengenai jumlah nasinya dapat dirubah-rubah, demikian pula warnanya sesuai dengan kepentingan atau kehendak seseorang, misalnya berwarna putih dan kuning berwarna merah, hitam dan putih, dan sebagainya.

2. Segehan Cacahan

Sebagai alasnya dipakai sebuah taledan (daun tangkih).

Di atasnya diisi 6/7 buah tangkih, yaitu lima buah daripadanya diisi nasi putih yang satu lagi diisi bija ratus (5 jenis biji-bijian seperti: jagung, jagung nasi, jawa, godem, dan jali), sedangkan tangkih yang satu lagi diisi beras sedikit, base tampel, benang putih, dan uang.

Bila mengambil 6 buah tangkih maka bijaratus dan lain-lainnya itu dijadikan satu tangkih.

Sebagai lauk-pauknya adalah bawang, jae, dan garam, kemudian dilengkapi dengan sebuah "canang-genten"/biasa.

Seperti pada Segehan kepel, maka nasi dari Segehan ini dapat pula diwarnai sesuai dengan kepentingannya.

Penggunaannya: Kedua jenis Segehan ini penggunaannya dapat dipilih oleh yang bersangkutan, untuk melaksanakan Bhuta-yadnya yang kecil/sederhana, seperti upacara waktu Keliwon, Purnama, Tilem, Piodalan Betara Saraswati, Pagerwesi, Rerahinan alit (ngebulan) di sanggah/di pura, sehabis Otonan, dan sebagainya.

Untuk upacara Dewa-yadnya banten ini dihaturkan di halaman sanggah ditujukan kehadapan Sang Bhuta Bucari, di halaman rumah ditujukan kehadapan Sang Kala Budari, dan dijaba (di jalan) kepada Sang Durga Bucari.

3. Segehan Agung

Sebagai alasnya dipakai sebuah tempat yang agak besar (di Bali biasanya dipalai sebuah nyiru/tempeh).

Di atasnya diisi 11 atau 33 buah tangkih, masing-masing diisi nasi, lauk-pauk dengan bawang, jae, dan garam, kemudian dilengkapi dengan sebuah daksina atau alat perlengkapan daksina itu ditaruh begitu saja pada tempat tersebut, tidak dialasi dengan bakul, dan kelapanya dikupas sampai bersih.

Sesegehan ini dilengkapi dengan sebuah canang payasan dan 11/33 buah canang genten/biasa ditambah dengan jinah sandangan.

Sedangkan untuk menghaturkan segehan ini disertai dengan penyambleh ayam kecil/itik/babi yang belum dikebiri (kucit butuan) yang masih hidup.

Penggunaan penyambleh itu disesuaikan dengan kepentingannya dan tempatnya.

Waktu menghaturkan, segala perlengkapan yang ada pada daksina itu dikeluarkan, sedangkan telur dan kelapanya dipecahkan diikuti dengan pemotongan penyamblehan dan akhirnya tetabuhan.

Penggunaannya: Segehan ini dipergunakan dalam upacara-upacara yang agak besar, dan kadang-kadang mempunyai sifat yang khusus seperti piodalan di pura, menurunkan atau memendak Ida Betara, pengukuran tempat untuk suatu bangunan lebih-lebih bangunan suci, pembongkaran/peletakan batu pertama, untuk suatu bangunan suci, dan selalu menyertai upakara Bhuta-yadnya yang lebih besar.

Di bawah ini adalah salah satu puja pengantar untuk Segehan Agung:

OM Sang Hyang Purusangkara, anugraha ring Sang Kala Sakti,

Sang Hyang Rudra anugraha ring Sang Kala Wisesa,

Sang Hyang Durga Dewi,

anugraha ring Sang Dengen,

ameng-ameng padenira paduka Betara Sakti anunggu ri bhumi,

ring pura Parhyangan,

natar paumahan,

di Dalem pasuguhan wates setra pabayangan,

salwir lemah angker,

manusa aweh tadah saji sira watek Kala Bhuta kabeh,

iti tadah sajinnira sega iwak sambleh,

asing kirang asing luput nyata pipis sabundel patukuna sira ring pasar agung,

pilih kebelanira-ajaken sangkalanira kabeh,

nyah saking kene, apan sira sampun sinaksenan,

wehana manusanira urip waras, dirgayusa.

OM Kala bhoktaya namah,

Bhuta bhoktaya namah,

Pisaca bhoktaya namah,

Durga bhotaya namah

Ucapan waktu menuangkan Tetabuhan.

OM ebek segara, ebek danu, ebek banyu-pramanah ingngulun.

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #hindu #segehan