BALI EXPRESS - Upacara Ngusaba Gede Lanang Kapat di Desa Adat Trunyan, Kintamani, Bangli, Bali, dimulai dengan penuh kekhidmatan melalui upacara Nyejep, yang juga dikenal sebagai tabuh rah.
Ritual ini dilakukan di dua tempat suci Hindu setempat, yaitu Pura Ratu Ayu Manik Surat Mapura Kaah dan Pura Ratu Ayu Manik Surat Mapura Kangin.
"Setelah diadakan upacara Nyejep, orang Trunyan baru boleh menyemblih binatang untuk upacara," ungkap Jero Mangku Permana, Wakil Bendesa Adat Trunyan.
Ritual Nyejep melibatkan penyembelihan ayam dan itik, dengan darahnya dicurahkan di tanah sebagai persembahan kepada dewa yang berkuasa di bawah bumi atau air, yaitu Ratu Gede Dalem Dasar.
Jero Mangku Permana menjelaskan, "Upacara ini bertujuan untuk membersihkan diri baik manusia maupun alat-alat yang akan dipakai untuk upacara, seperti payung, tandu, dan semua lambang suci (pretima/piturun) dewa."
Ritual membersihkan perlengkapan upacara menggunakan ramuan khusus dari tebu ratu, madu, dan air jeruk limau. Ramuan ini dibuat pada hari Purnama Ketiga.
"Pada hari ketiga, dilaksanakan upacara Pekideh, yaitu mengarak benda-benda dan binatang-binatang yang akan dikorbankan," tambah Jero Mangku Permana.
Hari keempat, pada Purnama Kapat, kerbau disembelih sebagai persembahan.
"Bagian-bagian kepala, keempat tungkai, tulang-tulang, dan kulit binatang tersebut dijadikan sajian yang disebut Banten Bangun Ayu," paparnya.
"Dilakukan upacara Ngigel Gayung Ngaji Beten, sebuah upacara suci dengan tarian yang dipersembahkan kepada para butakala," terang Jero Mangku Permana.
Sebagai penutup, para Deha Teruna mengarak pralingga menuju Danau Kuning untuk membersihkan Desa Trunyan dari kekotoran.
"Selesai ngelungaang (arak-arakan) menuju ke Pantai Danau Batur, para dewa distanakan kembali di Semangen Teruna," katanya.
Berikut adalah urutan prosesi dalam Upacara Ngusaba Gede Lanang Kapat:
-
Nyejep: Dimulai dengan upacara Nyejep, atau tabuh rah, yang dilakukan di Pura Ratu Ayu Manik Surat Mapura Kaah dan Pura Ratu Ayu Manik Surat Mapura Kangin. Upacara ini melibatkan penyembelihan ayam dan itik sebagai persembahan kepada dewa Ratu Gede Dalem Dasar.
-
Pembersihan dan Persiapan: Setelah Nyejep, dilakukan pembersihan diri dan perlengkapan upacara seperti payung, tandu, dan lambang suci dewa. Prosesi ini menggunakan ramuan khusus dari tebu ratu, madu, dan air jeruk limau.
-
Pekideh: Pada hari ketiga, dilakukan upacara Pekideh yang melibatkan pengarakan benda-benda dan binatang-binatang yang akan dikorbankan.
-
Penyembelihan: Hari keempat, pada Purnama Kapat, dilakukan penyembelihan kerbau sebagai persembahan. Bagian-bagian tertentu dari kerbau disajikan sebagai Banten Bangun Ayu.
-
Ngigel Gayung Ngaji Beten: Dilakukan upacara suci dengan tarian yang dipersembahkan kepada para butakala.
-
Ngelungang: Sebagai penutup, para Deha Teruna mengarak pralingga menuju Danau Kuning untuk membersihkan Desa Trunyan dari kekotoran. Setelah itu, para dewa disatukan kembali di Semangen Teruna.