BALI EXPRESS - Segehan atau banten segehan adalah salah satu sarana upacara bagi umat Hindu. Segehan merupakan sarana upacara tingkat kecil atau sederhana dari berbagai upacara bhuta yadnya. Sedangkan tingkatan yang lebih besar lagi disebut dengan Tawur.
Dikutif dari lama Kesrasetda Buleleng, segehan berarti suguhan. Makna segehan adalah sebagai persembahan kepada manifestasi Tuhan dalam bentuk Bhuta Kala untuk menjaga keharmonisan dan keseimbangan alam.
Segehan juga dihaturkan kepada ancangan iringan para Betara dan Betari, yang tak lain adalah akumulasi dari limbah/kotoran yang dihasilkan oleh pikiran, perkataan dan perbuatan manusia dalam kurun waktu tertentu.
Dengan segehan diharapkan dapat menetralisir dan menghilangkan pengaruh negative dari limbah tersebut.
Segehan juga dapat dikatakan sebagai lambang harmonisnya hubungan manusia dengan semua ciptaan Tuhan (palemahan).
Segehan ini biasanya dihaturkan setiap hari, diletakkan di bawah atau sudut- sudut natar merajan/pura atau di halaman rumah dan di gerbang masuk bahkan ke perempatan jalan.
Segehan banyak disinggung dalam lontar Kala Tattva, lontar Bhamakertih.
Dalam Susastra Smerti (Manavadharmasastra) disebutkan bahwa setiap kepala keluarga hendaknya melaksanakan upacara Bali (suguhan makanan kepada alam) dan menghaturkan persembahan di tempat-tempat terjadinya pembunuhan.
Tempat-tempat tersebut di antaranya tempat ulekan, pada sapu, pada kompor, pada asahan pisau, pada talenan.
Wujud banten segehan berupa alas taledan (daun pisang, janur), diisi nasi, beserta lauk pauknya yang sangat sederhana seperti “bawang merah, jahe, garam” dan lain-lainnya.
Dipergunakan juga api takep (dari dua buah sabut kelapa yang dicakupkan menyilang, sehingga membentuk tanda + atau swastika), bukan api dupa, disertai beras dan tatabuhan air, tuak, arak serta berem.
Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si. dalam buku “Caru Dalam Upacara di Bali” menyebutkan ada beberapa jenis segehan, di antaranya segehan kepel, segehan cacahan dan segehan agung.
Editor : Nyoman Suarna