Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Menjelajahi Keindahan Pura Bhujangga Waisnawa Gunung Sari: Sebuah Berkat bagi Umat Hindu yang Tersembunyi di Bali

I Putu Suyatra • Selasa, 2 April 2024 | 21:14 WIB
Pura Bhujangga Waisnawa, Jejak Pertapaan Ida Bagus Angker di Jatiluwih
Pura Bhujangga Waisnawa, Jejak Pertapaan Ida Bagus Angker di Jatiluwih

BALI EXPRESS -  Pura Bhujangga Waisnawa Gunung Sari, sebuah pura Hindu yang terletak di Desa Pakraman Gunung Sari, Desa Jatiluwih, Penebel, Tabanan, menawarkan pesona sejarah dan ketenangan bagi para pengunjungnya.

Lokasinya hanya berjarak sekitar 200 meter dari Pura Luhur Puncak Petali.

Tersembunyi di Desa Pakraman Gunung Sari, Desa Jatiluwih, Penebel, Tabanan, Bali, pura ini menawarkan pengalaman spiritual yang mendalam di tengah udara sejuk pegunungan.

Keberadaan Pura Bhujangga Waisnawa Gunung Sari tak lepas dari peran penting Ida Bagus Angker.

Konon, pura ini diperkirakan sebagai pasraman beliau di masa lalu.

Ida Bagus Angker, putra dari Ida Rsi Waisnawa Mustika, merupakan keturunan langsung dari Rsi Markandeya.

Dikisahkan bahwa setelah sang guru, Ida Rsi Waisnawa Mustika, wafat, Ida Bagus Angker bertapa di Giri Kusuma.

Tempat tersebut kemudian diberi nama Gunung Sari.

Ida Bagus Angker dikenal sebagai tokoh yang bijaksana dan mahir dalam berbagai bidang ilmu dan sastra agama.

Desa tempat tinggalnya disebut Jati Luwih, mencerminkan kecerdasan dan kewibawaannya.

Setelah melalui proses dwijati, Ida Bagus Angker kemudian bergelar Ida Rsi Canggu.

Sedangkan kata 'Bhujangga' sendiri bermakna cerdas dan cendekia, mengacu pada ajaran Siwa Waisnawa yang diyakini oleh Bhujangga Waisnawa di Bali, sejalan dengan ajaran Rsi Markandeya.

Guru Mangku Mertadana, yang ditemui di lokasi, menceritakan bahwa dahulu pura ini hanya terdiri dari palinggih sederhana.

Namun, berkat usaha keras para panglingsir, pura ini perlahan-lahan dibangun.

"Kayu untuk palinggih awalnya dihaturkan oleh almarhum Guru Nadra dari Buleleng, sementara atapnya dihaturkan oleh almarhum Guru Raka Mertha dari Langon," ungkapnya.

Pembangunan pura tidaklah mudah; para panglingsir harus memikul batu paras dari Desa Senganan yang jaraknya cukup jauh.

Namun, semangat gotong royong tanpa beban membawa hasil.

Meskipun pura ini mengalami kerusakan akibat gempa hingga tiga kali, pada sekitar enam tahun lalu, pura tersebut direnovasi dan dibangun kembali.

Kini, Pura Bhujangga Waisnawa Gunung Sari memiliki beberapa palinggih utama dan fasilitas lainnya, menawarkan tempat suci bagi umat Hindu untuk bersembahyang dan meditasi.

Setiap Purnamaning Jyesta, pujawali diadakan dengan meriah, dihadiri oleh umat dari berbagai daerah di Bali.

Suasana hening dan kedamaian di sekitar pura menjadikannya tempat yang ideal untuk bermeditasi.

Namun, para pengunjung disarankan untuk membawa jaket tebal dan jas hujan, terutama jika menggunakan sepeda motor, karena udara di pegunungan cukup dingin dan hujan sering turun.

Pengempon pura adalah seluruh warga Bhujangga Waisnawa, dengan sameton Bhujangga dari Desa Pakraman Gunung Sari sebagai panganceng.

Bagi yang ingin melakukan sembahyang pada hari biasa, mereka dapat langsung mengunjungi Desa Gunung Sari untuk mencari pamangku.

"Namun, pada hari-hari tertentu seperti purnama, tilem, atau kajeng kliwon, pasti ada pamangku di sana," ungkapnya. 

Pura Bhujangga Waisnawa Gunung Sari:

Informasi Tambahan:

***

Editor : I Putu Suyatra
#bali #hindu #pura #Jatiluwih