Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Perkawinan Hindu Unik di Bali: Ada Ritual Tambahan Bagi Pria di Desa Sembiran Menikahi Wanita dari Luar Desanya

I Putu Mardika • Sabtu, 6 April 2024 | 15:05 WIB
Suasana Desa Sembiran, Buleleng, Bali.
Suasana Desa Sembiran, Buleleng, Bali.

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Perkawinan Hindu di Desa Adat Sembiran, Kecamatan Tejakula, Buleleng, Bali, tergolong unik. Sebab, jika pria asal Sembiran meminang gadis asal luar Desa Sembiran atau Nyuang Luh dura Desa (luar desa) maka gadis yang dipinang wajib menjalani sejumlah ritual.

Bendesa Adat Sembiran, Nengah Arijaya menjelaskan perkawinan Nyuang Luh Dura Desa (luar desa sembiran) itu terjadi ketika ada seorang laki-laki yang berasal dari Desa Sembiran meminang istri di luar Desa Sembiran, maka proses upacaranya berbeda dengan upacara perkawinan pada umumnya.

Perbedaan itu terlihat pada mempelai Wanita.

Pasalnya, mempelai wanita kembali dibuatkan upacara daur hidup dari prosesi Kepus Puser, Nelubulanin, Mitubulanin, dan Ngotonin di tempat mempelai laki-laki.

“Proses upacara perkawinan di Desa Sembiran ini sudah berlangsung sejak dulu, dan masyarakat Desa Sembiran sampai sekarang masih tetap melestarikan upacara ini. Upacara terhadap mempelai Wanita,” kata Arijaya.

Ia menambahkan, biasanya prosesi dilaksanakan sebelum upacara perkawinan dilangsungkan. Pihak mempelai laki-laki datang kepihak mempelai wanita untuk meminjam.

Sementara mempelai wanita guna dibuatkan upacara Kepus Puser, Nelubulanin, Mitubulanin, dan Ngotonin di rumah mempelai laki-laki (Desa Sembiran).

Upacara Kepus Puser, Nelubulanin, Mitubulanin, dan Ngotoinin tidak bisa dilaksanakan secara bersamaan dalam satu hari.

Melainkan dilaksanakan satu upacara dalam satu hari, yaitu hari pertama dilaksanakan upacara Kepus Puser, hari kedua upacara Nelubulanin dan hari ketiga upacara Mitubulanin dan Ngotonin.

Tahapan awal upacara perkawinan di Desa Sembiran yaitu Memadik/Ngidih, melaksanakan upacara Kepus Puser, Nelubulanin, Mitubulanin, dan Ngotonin khusus mempelai wanita yang berasal dari luar Desa Sembiran.

Prosesi upacara Bebas/Mepenyari dalam rangkaian upacara perkawinan di Desa Sembiran setelah kedua mempelai memasuki pintu gerbang rumah mempelai wanita dibuatkan upacara mebyakala,

Kemudian, setelah mebyakala dilanjutkan dengan pengesahan baik secara sekala maupun niskala.

Maka, acara selanjutnya adalah nunas yaitu kedua mempelai didampingi oleh keluarga mohon pamit di sanggah/merajan mempelai wanita.

Hal ini dimaksudkan bahwa mempelai wanita sudah dimiliki oleh mempelai laki-laki dan masuk ke keluarga suami.

Kemudian natab banten di bale yaitu prosesi yang dilaksanakan untuk memohon keselematan dan kedua mempelai agar kedua mempelai langgeng dan mempunya keturunan yang suputra dan suputri.

Selanjutnya pengesahan yaitu mengesahkan bahwa kedua mempelai sudah resmi sah secara adat dalam menjadi pasangan suami istri.

Acara tersebut disaksikan oleh masing-masing prajuru adat dan dinas untuk menjadi krama negak di Desa Sembiran.

“Pada prosesi ini dikenakan mayah linggih jadi anggota baru 1.200 uang kepeng mayah kelari yang laki laki 2.500 uang kepeng, sementara perempuan 2.000 uang kepeng,” paparnya.

Prosesi upacara bebas mepenyari dan beberapa tahapan diantaranya mebyakala yaitu upacara pembersihan dan kedua mempelai, nunas yaitu prosesi mepamit yang dilaksanakan di sanggah/merajan mempelai Wanita.

“Natab banten di bale yaitu proses yang dilaksanakan untuk memohon keselamatan dari kedua mempelai agar kedua mempelai langgeng dan mempunyai keturunan yang suputra dan suputri dan pengesahan yaitu mengesahkan kedua mempelai resmi menjadi pasangan suami istri, acara ini disaksikan oleh masing-masing prajuru adat dan dinas,” sebutnya. ***  

Editor : I Putu Suyatra
#sembiran #ritual #bali #unik #hindu #tradisi #perkawinan