Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tumpek Krulut: Hari Kasih Sayang Versi Bali yang Penuh Makna Dalam Nada-nada Indah

I Putu Mardika • Jumat, 12 April 2024 | 18:49 WIB

Ilustrasi
Ilustrasi

BALI EXPRESS - Jika perhitungan tahun Masehi memiliki Hari Valentine (kasih sayang) yang dirayakan setiap 14 Februari, maka umat Hindu di Bali pun memiliki Tumpek Krulut yang dirayakan sebagai Hari Kasih Sayang.

I Putu Ariyasa Darmawan, M.Ag., seorang akademisi terkemuka dari STAHN Mpu Kuturan Singaraja, menjelaskan tentang pentingnya Krulut, yang berasal dari 'lulut,' yang mengandung makna kasih sayang dan kelembutan.

Ini mencerminkan semangat kasih dan empati yang dibagikan di antara umat manusia.

Lebih dari Sekedar Ritual Penyucian Gambelan

Tumpek Krulut memang identik dengan ritual penyucian gambelan, alat musik tradisional Bali yang menghasilkan alunan suara indah dan suci.

Upacara ini bertujuan untuk menjaga taksu gambelan dan memberikan keindahan bagi mereka yang mendengarkannya, bahkan menambah kesuksesan sebuah upacara agama.

Suara Indah yang Menenangkan Jiwa

Alunan suara gambelan yang merdu mampu membangkitkan ketenangan dan kedamaian bagi siapapun yang mendengarkannya.

Filosofi di balik suara indah ini dijelaskan oleh Akademisi STAHN Mpu Kuturan Singaraja, I Putu Ariyasa Darmawan, M.Ag.

Baca Juga: Ingin Bangun Rumah Tradisional Bali yang Harmonis? Langkah Pertama: Tata Letak Pekarangan adalah Kuncinya!

"Seperti filsafat yang berlaku, melodi harmonis yang mengalun lembut di telinga kanan, menciptakan suasana yang tenang, menenangkan hati dan pikiran," papar Ariyasa Darmawan.

Simbolisasi Dewa dan Cinta Kasih

Gambelan diibaratkan sebagai tiruan dari Smaralaya atau Istana Sang Hyang Smara, Dewa Cinta Kasih.

Suara indah gambelan ini dikaitkan dengan Dewa Indra, Dewa Yama, Dewa Baruna, dan Dewa Kuwera, yang semuanya memiliki peran dalam menyebarkan cinta kasih.

Suara Indah Menuju Hati dan Pikiran

Suara indah gambelan yang didengar telinga kanan akan menjadi suara tetabuhan yang sayup-sayup dan manis, menenangkan hati dan membawa kedamaian.

Irama gambelan juga menghimpun Panca Brahma dalam perut menjadi Pancasya, yang kemudian keluar dari telinga kiri menjadi suara tetabuhan yang mengalun dan menyejukkan telinga.

Cinta Kasih Setiap Hari

Menurut Ariyasa Darmawan, kasih sayang seharusnya tidak hanya ditunjukkan pada satu hari saja, melainkan setiap hari.

Baca Juga: Pura Dalem Suniantara: Misteri, Mitos, dan Arca Kuno Serta Legenda Ular Penunggu di Tengah Kota Denpasar

Cinta kasih identik dengan Dewa Smara, sedangkan keindahan tertuang dalam bentuk dan suara gambelan yang membawa kedamaian bagi hati.

Tumpek Krulut: Hari Kasih Sayang yang Penuh Makna

Oleh karena itu, Tumpek Krulut sangat tepat dijadikan sebagai Hari Kasih Sayang versi Bali.

Hari ini menjadi pengingat bagi umat Hindu untuk selalu memancarkan kasih sayang dan keindahan dalam kehidupan sehari-hari.

"Cinta dan kasih sayang tidak harus terbatas pada satu hari; mereka harus dirayakan setiap hari. Esensi cinta, yang diwujudkan oleh Dewa Smara, menemukan ungkapannya melalui daya tarik gamelan yang memikat, yang merawat ketenangan di dalam jiwa. Oleh karena itu, Tumpek Krulut pantas mendapat tempat sebagai versi Hari Valentine versi Bali," ungkap Ariyasa Darmawan.

Informasi Penting:

 

 

 

KEMENANGAN: Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Sumenep saat membuka gema takbir Idul Fitri, Selasa (9/4). (PROKOPIM UNTUK JPRM)
KEMENANGAN: Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Sumenep saat membuka gema takbir Idul Fitri, Selasa (9/4). (PROKOPIM UNTUK JPRM)
Editor : I Putu Suyatra
#hari kasih sayang #tumpek krulut #gambelan #valentine