Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pecalang: Penjaga Keamanan Tradisional Bali dengan Sejarah dan Atribut Unik

I Putu Suyatra • Jumat, 12 April 2024 | 20:58 WIB
TOLERANSI : Pecalang turut mengamankan Sholat Ied di Alun-alun Ida I Dewa Agung Jambe.
TOLERANSI : Pecalang turut mengamankan Sholat Ied di Alun-alun Ida I Dewa Agung Jambe.

BALI EXPRESS - Setiap pelaksanaan upacara adat di Bali, khususnya yang melibatkan banyak orang, selalu melibatkan Pecalang. Siapakah Pecalang dan bagaimana asal-usulnya?

Menurut Budayawan Kota Denpasar, Gede Anom Ranuara, Pecalang, berasal dari kata "calang", yang bermakna "waspada".

"Mereka adalah penjaga keamanan desa adat dan banjar di Bali, seperti petugas keamanan alamiah," ungkapnya.

Sejarah mereka memiliki akar yang dalam. Dimulai dengan perjalanan seorang Rsi Agung bernama Rsi Markandeya ke Bali.

Ini adalah awal mula terbentuknya Desa Pakraman (desa adat) dan kemunculan Pecalang sebagai penjaga desa.

Tapi, misteri masih mengelilingi asal-usul Pecalang. Ada yang mengatakan mereka berasal dari "gugus tugas" konferensi tahun 1998, yang lain percaya mereka muncul saat Pesta Kesenian Bali pada akhir 1970-an.

Bahkan, ada yang mempercayai bahwa mereka adalah reinkarnasi penjaga puri.

Tugas Pecalang sangat penting.

Mereka memiliki tiga kewajiban, termasuk menjaga keamanan desa dan memberikan petunjuk yang benar kepada warga. Namun, peran mereka tidak berhenti di situ.

Mereka juga memainkan peran vital dalam menjaga keamanan wilayah dan mendukung industri pariwisata.

Namun, wajah Pecalang telah berubah seiring berjalannya waktu.

Dulu identik dengan pakaian adat dan keris, kini mereka mengikuti perkembangan zaman dengan menggunakan atasan kemeja dan perangkat modern seperti pentungan dan Handy Talkie.

Meskipun demikian, semangat pengabdian mereka tidak pudar. Menjadi Pecalang adalah pengabdian tanpa pamrih kepada masyarakat.

"Mereka tidak mendapatkan gaji, tapi dibebaskan dari kewajiban warga lainnya. Namun, ini bukan tanpa konsekuensi. Mereka harus siap kapan saja dipanggil untuk bertugas," jelasnya.

Sejarah Pecalang:

  • Pecalang berasal dari kata "calang" yang berarti "waspada". Pecalang adalah seseorang yang ditugaskan untuk mengawasi keamanan desa adat (banjar) di Bali.
  • Pecalang muncul bersamaan dengan terbentuknya Desa Pakraman (desa adat) di Bali.
  • Ada beberapa versi terkait asal usul Pecalang, namun yang paling populer adalah bahwa Pecalang dibentuk sebagai jaga baya desa (penjaga desa) atas visi dan misi Rsi Markandeya untuk membangun Desa Pakraman.

Kewajiban Pecalang:

  • Ngupadesa: Pecalang harus dekat dengan Desa Pakraman dan warganya, memberikan komunikasi dan arahan kepada krama (warga) desa.
  • Atitikarma: Pecalang harus memberikan petunjuk yang benar kepada krama desa, baik berupa arah maupun keteladanan.
  • Jaga Baya Desa: Pecalang wajib menjaga keamanan desa dengan melakukan ronda atau keliling Desa Pakraman.

Atribut Pecalang:

  • Maudeng (Udeng): Penutup kepala yang wajib digunakan dengan pengaturan bentuk khusus untuk membedakan.
  • Mawastra Akancut Nyotot Pertiwi: Kain dengan bagian depan dijatuhkan ke tanah.
  • Makampuh Poleng: Kain dilapisi dengan kain hitam putih (poleng) untuk memberi kesan berwibawa dan memiliki makna simbolis dari kekuatan dan kesaktian.
  • Ayungkalit Keris: Pecalang membawa keris yang diselipkan di pinggangnya pada bagian depan.
  • Masumpeng Waribang: Bunga pucuk Arjuna diselipkan di telinga.

Pecalang di Era Modern:

  • Di masa kini, Pecalang tidak lagi identik dengan badan yang kekar ataupun berwajah seram.
  • Pakaian Pecalang sudah mengikuti perkembangan zaman, seperti kemeja berwarna gelap, jaket hijau metalik, dan pentungan yang dapat dinyalakan.
  • Perangkat komunikasi Handy Talkie pun disematkan di pinggang untuk mempermudah koordinasi jarak jauh.

Tugas Pecalang:

  • Mengatur lalu lintas di sekitar lokasi upacara.
  • Mengawal prosesi ngaben sampai ke kuburan.
  • Menjaga keamanan dan kelancaran kegiatan adat lainnya.

Pengabdian dan Kompensasi Pecalang:

  • Menjadi Pecalang adalah suatu pengabdian kepada masyarakat.
  • Pecalang tidak mendapatkan gaji, namun dibebaskan dari iuran banjar, gotong royong, dan kewajiban warga lainnya.
  • Pecalang harus siap sedia bertugas jika ada kegiatan adat di desa setempat.
  • Masa tugas Pecalang tidak menentu dan dipilih oleh warga banjar.

Tantangan Pecalang:

  • Belakangan ini ada beberapa peristiwa yang menunjukkan Pecalang melenceng dari fungsi dan tugasnya.
  • Hal ini dapat disebabkan oleh banyaknya pemuda yang terlibat sebagai Pecalang tanpa proses seleksi yang memadai.
  • Seleksi informal penting dilakukan untuk memilih Pecalang yang memiliki mental yang baik dan mampu melayani masyarakat.

Pecalang adalah sosok penting dalam menjaga keamanan dan kelancaran kegiatan adat di Bali. Dengan menjaga profesionalisme dan keramahannya, Pecalang dapat memberikan rasa aman kepada masyarakat sekitar dan mempertahankan citra Bali yang ramah di mata dunia.

Baca Juga: JARANG DIKETAHUI ORANG! Bunga Jepun: Lebih dari Sekedar Hiasan Pura di Bali, Ternyata Berkhasiat Obat!

Informasi Tambahan:

  • Pecalang diatur dalam Peraturan Daerah No. 3 Tahun 2001 tentang Desa Pekraman (desa adat).
  • Di beberapa daerah, Pecalang mulai merambah dan menerima orderan untuk mengamankan aset vital yang mendukung industri pariwisata.
LAILIYATUN NURIYAH/JPRM MENGAJI: Para jemaah seusai mengikuti kajian di Ponpes Nahdhatut Ta’limiyah, Rabu (3/4).
LAILIYATUN NURIYAH/JPRM MENGAJI: Para jemaah seusai mengikuti kajian di Ponpes Nahdhatut Ta’limiyah, Rabu (3/4).
Photo
Photo
Editor : I Putu Suyatra
#bali #pecalang #desa pakraman #desa adat #tradisional