BALI EXPRESS - Mendengar hipnotis, stigma orang-orang umumnya meruncing ke dua maksud. Pertama, hipnotis dengan konotasi negatif, yakni bisa soal penipuan, pencurian dan sebagainya.
Sedangkan, konotasi positif adalah tentang hiburan atau entertain yang sering dipertontonkan di layar televisi atau kanal media sosial YouTube.
Bagaimana jika hipnotis digunakan untuk metode penyembuhan non-medis, seperti urusan sembuhkan black magic atau dalam istilah penyakit Bali disebut bebai hingga santet.
Ketua DPW Perkumpulan Komunitas Hipnosis Indonesia (PKHI) Bali AA Lanang Ananda menjelaskan, hipnotis atau lebih modern disebut hipnosis bukanlah metode baru untuk penyembuhan, terutama penyakit non-medis seperti bebai dan santet.
Menurutnya, hipnosis sudah ada bersamaan dengan berkembangnya peradaban manusia itu sendiri.
Hal ini dibuktikan dari hasil temuan ilmiah arkeologi yang menunjukkan sekitar 4400 SM di Mesir, Cina, Yunani dan bahkan di Assyo Babilonia.
Namun penggunaan kata hipnosis baru digunakan oleh seorang dokter bedah yang bernama James Braid pada tahun 1843, dan itulah yang dikenal sampai saat ini.
Gung Lan Ananda, panggilan akrabnya, mengungkapkan, terkait dengan penyembuhan klenik, santet, gendam, hal-hal gaib, meditasi, dan hal-hal sejenis, merupakan bagian dari hipnosis traditional atau klasik.
Karena teknik induksinya menggunakan mantra, sesajen dan tirakat.
Sedangkan dalam hipnosis modern yang diterapkan PKHI tidak menggunakan hal tersebut sama sekali.
Lalu, bagaimana proses penyembuhan menggunakan sesajen, mantra atau lainnya? Gung Lan Ananda yang pernah menjabat ketua umum Pengprov Taekwondo Indonesia (TI) Bali selama dua periode ini menyebutkan, caranya dengan mengolah gelombang theta di otak manusia.
“Karena antara klenik, santet dan hipnosis ini sama-sama menjurus ke gelombang theta. Jadi sakit yang muncul disebabkan gelombang otak yang terganggu,” terangnya.
Lewat hipnosis, lanjutnya, hal itu bisa diperbaiki dengan cara diolah supaya gelombangnya stabil seperti keadaan normal.
Gelombang theta atau yang disebut pikiran bawah sadar mengendalikan kehidupan manusia sampai 88 persen. Sedangkan pikiran sadar yang digunakan hanya 12 persen saja.
Master senior hipnosis di Bali ini memastikan, penyakit yang mengandung unsur klenik, santet traditional seperti bebai, kesurupan, dan lain-lainnya dapat sembuhkan dengan cara hipnosis atau hipnotis.
Hal itu karena sumber penyakitnya bersarang dalam pikiran si penderita yang disebut dengan psikosomatis.
Lan Ananda sudah membuktikan hal itu saat turun langsung menangani kasus-kasus ilmu magic dan sejenisnya. Terbukti mereka bisa sembuh total.
“Penyembuhan santet dengan hipnosis bukan metode baru, melainkan karena hipnosis bekerja di gelombang theta yang mana merupakan gelombang otak spiritual ataupun gelombang otaknya santet,” ujarnya.
Lebih lanjut dijelaskan, teknik penyembuhan hipnosis memiliki beberapa tahapan, mulai dari mencari akar permasalahan sampai mengobatinya.
Hal ini juga tergantung dari berat atau ringan kasus yang dialami oleh si penderita. Rata-rata, menurutnya, antara 3-5 kali terapi sudah sembuh.
“Saya bisa pastikan tidak ada terapi lanjutan kalau pasien sudah sembuh. Begitu sembuh ya sembuh,” tuturnya.
Yang paling ditegaskan pihaknya adalah, anggota PKHI yang melakukan terapi pengobatan dilarang, bahkan haram hukumnya menyakiti pasien seperti yang digambarkan di media sosial.
Lan Ananda mengaku pernah menangani kasus black magic yang cukup parah. Cuma, PKHI memiliki kode etik dan benar-benar harus dipegang teguh, yakni tidak boleh menyebutkan nama, asal maupun identitas pasien.
“Sudah ratusan kali di PKHI menyembuhkan orang-orang yang terkena black magic itu. Mulai dari bebai, dikejar-kejar orang besar dan lainnya. Hipnosis dapat menghilangkan itu semua,” tandasnya.
Editor : Nyoman Suarna