SINGARAJA, BALI EXPRESS – UPTD Gedong Kirtya, Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali kembali melakukan konservasi lontar.
Konservasi lontar akan dilakukan di 8 lokasi, di antaranya Desa Banyuatis di Kecamatan Banjar, Desa Seririt di Kecamatan Seririt, Desa Banjar di Kecamatan Banjar, Desa Sawan, Kecamatan Sawan, Desa Banyuning di Kecamatan Buleleng, Banjar Delod Peken di Kecamatan Buleleng, Kelurahan Banjar Tegal di Kecamatan Buleleng, dan Banjar Dinas Kelod Kauh, Desa Panji Kecamatan Sukasada, Buleleng.
Untuk lokasi konservasi pertama dilakukan di Desa Banyuatis, Kecamatan Banjar.
Ada 13 cakep lontar yang ditemukan, dua di antaranya mengalami kerusakan akibat penyimpanan yang terlalu lama dan tidak pernah dibersihkan.
Kepala UPTD Gedong Kirtya Singaraja Dewa Ayu Susilawati mengatakan, konservasi lontar ini dilakukan untuk melestarikan lontar-lontar yang ada di masyarakat.
Lontar yang dibaca itu tidak diambil oleh pihak Gedong Kirtya. Lontar itu akan diduplikasi apabila di Gedong Kirtya tidak ada koleksinya.
“Kami tidak akan mengambil. Kami hanya membantu membaca agar diketahui isi lontarnya seperti apa dan juga melakukan perawatan. Kalau lontar yang kami temukan tidak ada di museum Gedong Kirtya, baru kami akan lakukan penduplikasian. Dan apabila ada masyarakat yang menyerahkan lontarnya kepada kami, dengan senang hati kami terima,” ujarnya, Rabu, 17 April 2024.
Belasan cakep lontar itu milik keluarga Komang Ari dan sebelumnya disimpan di Gedong Suci Merajan Lingsir Bhujangga Waisnawa.
Klasifikasinya ada lontar Kawisesan, Wariga, Usada. Selain itu juga ditemukan beberapa buku tua beraksara Bali milik panglingsir.
Diduga, buku itu adalah duplikasi dari lontar-lontar yang ada di keluarga Komang Ari.
“Kami tidak tahu tujuannya para penglingsir dulu menulis itu untuk apa. Yang jelas seperti alih wahana dari daun lontar ke kertas. Dari semua itu, isinya hampir sama dengan koleksi yang ada di museum,” ujarnya.
Pembaca lontar Gedong Kirtya Singaraja Putu Suarsana menambahkan, dari belasan lontar itu terdapat satu lontar yang menunjukkan waktu pembuatannya.
Catatan itu terdapat pada lontar Kidung Pasikepan yang ditulis 12 September 1925.
“Itu kondisinya masih bagus. Kalau lontar lainnya tidak tahu kapan dibuatnya. Kemungkinan di tahun yang sama juga,” kata dia.
Di samping itu, keluarga Komang Ari juga kehilangan jejak terkait penulis lontar itu.
Sejak ia tinggal di rumah tersebut, lontar itu telah tersimpan rapi dalam keropak kayu.
Tidak ada satupun anggota keluarga yang berani menurunkan maupun membuka keropak tersebut.
“Menurut penuturan keluarga lontar itu tidak pernah dibuka apalagi dibaca. Maka dari itu mereka meminta bantuan kepada kami dan langsung kami eksekusi,” ujar Suarsana.
Dari pembacaan yang dilakukan pihak Gedong Kirtya, keluarga Komang Ari juga disebut akan melakukan pembacaan ulang secara utuh.
Hal itu dilakukan untuk mengetahui secara pasti isi dari lontar tersebut dan menjadi pengetahuan bagi generasi berikutnya di keluarga Komang Ari.
“Dari pihak keluarga keinginannya seperti itu. Jika boleh kami saran, dan diijinkan, lontar itu kami bawa ke Gedong Kirtya untuk dibantu membaca dan dilakukan digitalisasi. Sehingga mudah untuk dibaca dan dipelajari oleh pihak keluarga,” ungkapnya. (*)