TABANAN, BALI EXPRESS - Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Tabanan, dikenal dengan tarian sakralnya yang unik, Tari Baris Memedi. Tarian ini diyakini mampu mengantarkan roh manusia Hindu Bali ke alam nirwana. Dalam setiap pertunjukannya, para penari mengalami kesurupan karena roh gaib memedi hadir melalui prosesi sakral dengan sesajen.
I Nyoman Suwirkan, salah seorang penari Baris Memedi, menjelaskan bahwa tarian ini biasanya dipentaskan pada upacara atiwa-tiwa atau ngaben massal (ngerit) di Desa Adat Jatiluwih, Penebel, Tabanan.
Masyarakat Jatiluwih percaya bahwa tarian ini bertujuan untuk mengantar roh ke nirwana.
Tarian Baris Memedi biasanya ditampilkan oleh seorang laki-laki yang sudah tua.
Jumlah penari dalam pertunjukan ini berkisar antara tujuh hingga dua belas orang, dengan tujuh penari di Desa Adat Jatiluwih.
Rinciannya, empat penari memerankan Baris Memedi laki-laki, dua penari memerankan Baris Memedi perempuan, dan satu penari sebagai Raja Baris Memedi yang disebut penamprat.
Salah satu penari dibekali dengan senjata khusus berupa pohon ketugtug sebagai simbol tombak.
"Penggunaan ketugtug melambangkan tongkat komando, menandakan bahwa tugas Memedi dalam mengantarkan roh orang yang meninggal telah selesai," jelas Suwirkan.
Para Memedi diberi sesajen sebagai tanda terima kasih kepada masyarakat yang mengalami kedukaan.
Penamprat mengarahkan para penari Baris Memedi kembali ke setra atau kuburan untuk melanjutkan upacara ngaben berikutnya.
Tari Baris Memedi tidak memiliki gerak yang baku, penari menari sesuai alunan musik, dengan gerakan bebas tetapi dalam pola berbaris.
Di Desa Adat Jatiluwih, gerakan penari meniru adegan seks, yang disebut gerakan angkuk-angkuk.
Adegan ini bukan hasil kreativitas penari, melainkan karena penari akan mengalami trance atau kesurupan oleh roh Memedi selama pertunjukan.
Penari Baris Memedi mengenakan pakaian dari setra atau kuburan, disebut jurang abing.
Mereka menggunakan pakaian sehari-hari yang telah dipakai dari rumah, dirias dengan daun keraras atau daun pisang kering, daun plawa, dan kain-kain dari setra atau kuburan.
Riasan wajah mereka menggunakan pohon bambu kecil, tedung, atau payung dari kuburan.
Riasan wajah menggunakan bahan dari kuburan, seperti arang untuk mata sebagai pengganti eyeshadow, dan buah pohon kapur untuk wajah sebagai pengganti bedak.
Penari perempuan biasanya menggunakan busana kebaya dari rumah mereka, dengan riasan wajah dari kuburan.
Busana penamprat hampir sama dengan penari Baris Memedi lainnya, tetapi penamprat menggunakan tapel atau topeng, sementara penari lainnya menggunakan riasan wajah biasa.
Tarian Baris Memedi dipentaskan dari setra, menuju lokasi upacara.
Setelah menari di depan lokasi upacara atau di hadapan orang yang berduka, para penari dipimpin kembali ke setra oleh penamprat.
Mereka membersihkan diri dengan melukat di tukad yang telah disiapkan untuk mengembalikan jiwa mereka yang telah mengalami kesurupan karena dirasuki oleh roh Memedi. ***