GIANYAR, BALI EXPRESS - Di Desa Pejeng, Gianyar, Bali, terdapat sebuah pura unik bernama Pura Kebo Edan. Keunikan pura Hindu ini terletak pada peninggalannya yang menjadi bukti bahwa ajaran Tantrayana pernah berkembang di Bali.
Didirikan pada Abad ke-13 Masehi
Pura Kebo Edan didirikan pada abad ke-13 Masehi, tepatnya pada tahun 1284. Namanya diambil dari sepasang arca utama berbentuk kerbau yang terdapat di pura tersebut.
Baca Juga: Pura Kebo Edan, Jejak Aliran Tantrayana bagi Hindu Bali Sejak Abad ke-13: Sejarah dan Fakta Menarik
Peninggalan Arca-arca Bhairawa
Peninggalan utama Pura Kebo Edan adalah arca-arca Bhairawa yang berciri khas Tantrayana.
Salah satu yang paling terkenal adalah Arca Siwa Bhairawa, dengan tinggi 362 cm, lebar 177 cm, dan tebal 87 cm.
"Arca ini terbuat dari batu padas berwarna abu-abu dan menggambarkan Dewa Siwa dalam keadaan marah dan menyeramkan," ungkap Pemangku Pura Kebo Edan, Jro Mangku Putu Duaja (64)
Arca Bhairawa lainnya adalah Arca Bhairawa, dengan tinggi 362 cm, lebar 177 cm, dan tebal 87 cm.
Arca ini juga terbuat dari batu padas berwarna abu-abu dan digambarkan dengan sikap berdiri di atas lapik mayat manusia.
Arca tersebut menggambarkan Dewa Siwa dalam keadaan marah dan menyeramkan, dengan rambut bergelombang dan sikap yang tegap.
Berdasarkan posisi kemaluannya yang mengarah ke kiri, Arca Siwa Bhairawa ini menunjukkan kemungkinan ajaran Tantrayana aliran kiri (niwerti) yang dianut pada masa itu.
Arca Raksasa dan Arca Kerbau
Selain arca-arca Bhairawa, Pura Kebo Edan juga memiliki peninggalan lain seperti Arca Raksasa dan Arca Kerbau.
Arca Raksasa berfungsi sebagai dwarapala dan umpak bangunan pelinggih, sedangkan Arca Kerbau merupakan arca utama pura.
Pura Kebo Edan juga memiliki beberapa arca lainnya, seperti Arca Ganesha, yang semuanya menggambarkan kekuatan dan keangkeran ajaran Tantrayana pada masa itu.
Bukti Sejarah Kuat Tantrayana
Peninggalan-peninggalan di Pura Kebo Edan menjadi bukti sejarah kuatnya jejak Tantrayana di Bali saat itu.
Ajaran Tantrayana menekankan pada pencapaian moksa melalui Pancatatwa, yaitu matsya (makan ikan), mamsa (makan daging), mudra (makan padi-padian), mada (minum minuman keras), dan maithuna (melakukan hubungan suami istri).
Pura Kebo Edan: Destinasi Wisata Budaya dan Spiritual
Pura Kebo Edan bukan hanya tempat suci bagi umat Hindu, tetapi juga destinasi wisata budaya dan spiritual yang menarik untuk dikunjungi.
Keunikan pura dan peninggalannya menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin mempelajari sejarah dan budaya Bali. ***