Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tata Cara Menghaturkan Rarapan bagi Umat Hindu Bali: Apakah di Atas Canang atau Dibuatkan Tempat Terpisah?

I Putu Suyatra • Senin, 27 Mei 2024 | 17:52 WIB
Tata cara menghaturkan rarapan bagi umat Hindu Bali.
Tata cara menghaturkan rarapan bagi umat Hindu Bali.

DENPASAR, BALI EXPRESS - Pelaksanaan Yadnya atau persembahan umat Hindu Bali sangat identik dengan aturan yang ketat.

Aturan ini bertujuan untuk memaksimalkan makna dari setiap persembahan yang dilakukan.

Persembahan Rarapan yang tidak mengikuti aturan cenderung akan mubazir dan kehilangan maknanya.

Oleh karena itu, penting bagi umat Hindu Bali untuk memperhatikan tata cara dalam menghaturkan Rarapan.

Rarapan merupakan bagian penting dalam kehidupan sehari-hari umat Hindu di Bali.

Hal ini berdasarkan pada keterbatasan manusia yang tidak mampu melihat dan berkomunikasi dengan makhluk tak kasat mata.

Ketakutan akan kemungkinan mengganggu makhluk tak terlihat tersebut menjadi alasan mengapa Rarapan dilakukan.

Rarapan berfungsi sebagai sarana untuk memastikan bahwa para Bhuta Kala atau wong samar tidak mengganggu manusia.

Menurut Mangku I Wayan Satra, penting untuk menjaga keharmonisan dengan makhluk tak kasat mata ini.

"Inilah yang penting untuk kita harmoniskan, sebab, mereka yang tidak terlihat tetapi kita yakini keberadaannya dapat mengganggu kita sewaktu-waktu," ujarnya pada Rabu (4/1/2017).

Mangku Satra menjelaskan bahwa dalam menghaturkan Rarapan, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan.

Yang terpenting adalah lokasi penempatan Rarapan, apakah di atas canang atau dibuat terpisah.

Tata cara yang benar adalah dengan membuatkan tatakan tersendiri untuk Rarapan.

Tatakan ini bisa berupa lepekan yang suci, daun, atau sarana yang terbuat dari janur yang disebut klemik oleh masyarakat Bali.

Alasan mengapa Rarapan harus dipisah dari canang adalah karena fungsinya yang berbeda.

Canang merupakan simbol Tuhan atau Sang Hyang Widi Wasa, sedangkan Rarapan adalah persembahan untuk Bhuta Kala atau wong samar.

Menempatkan Rarapan di atas canang dapat menghilangkan makna canang itu sendiri.

"Hal inilah yang menyebabkan menghaturkan Rarapan sebaiknya tidak diletakkan di atas canang, melainkan dibuatkan tempat atau sarana sendiri dan biasanya diletakkan di bagian bawah palinggih, jika dihaturkan di palinggih," pungkas Satra.

Dengan mengikuti aturan yang tepat, makna dan tujuan dari setiap persembahan dapat tercapai dengan maksimal, menjaga keharmonisan antara manusia dan makhluk tak kasat mata.

 

Tata Cara Rarapan yang Benar

Saat Rarapan, ada hal penting yang perlu diperhatikan, yaitu tempat meletakkannya.

Tata cara yang benar:

  • Buatlah tatakan tersendiri untuk Rarapan, bukan di atas canang.
  • Tatakan ini bisa berupa lepekan sukla, daun, atau klemik (janur).

Alasan Pemisahan:

  • Fungsi berbeda: Canang melambangkan Tuhan (Sang Hyang Widi Wasa), sedangkan Rarapan untuk Bhuta Kala.
  • Menjaga makna: Meletakkan Rarapan di canang menghilangkan makna canang.

Penempatan Rarapan:

  • Letakkan Rarapan di bawah palinggih jika dihaturkan di palinggih.

***

 

Editor : I Putu Suyatra
#tata cara #bali #Rarapan #canang #wong samar #hindu #bhuta kala