Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

UNIK!! Pura Gunung Payung di Kutuh lahir dari Payung yang ditancapkan Dang Hyang Nirartha

I Putu Mardika • Sabtu, 8 Juni 2024 | 03:38 WIB

Pura Gunung Payung di wilayah Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, Badung, Bali yang erat dengan perjalanan Dang Hyang Nirartha dalam menyebarluaskan Hindu di Bali
Pura Gunung Payung di wilayah Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, Badung, Bali yang erat dengan perjalanan Dang Hyang Nirartha dalam menyebarluaskan Hindu di Bali
BADUNG, BALI EXPRESS-Kawasan Kuta Selatan, Badung memang terkenal dengan keberadaan pura kahyangan jagat yang menjadi pesimpangan dari para tokoh suci umat Hindu. Salah satunya adalah Pura Gunung Payung.

Pura Gunung Payung yang terletak di daerah perbukitan dan berdiri megah di ujung selatan Pulau Bali di pesisir pantai, yang termasuk wilayah Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali.

Pura Gunung Payung ini berstatus Pura Dang Kahyangan, karena  erat kaitannya dengan perjalanan suci Dang Hyang Nirartha dalam menyebarluaskan ajaran Hindu di Bali.

Jero Mangku I Gede Sudana selaku pemangku Pura Gunung Payung menjelaskan berdirinya Pura Gunung Payung juga berkaitan dengan Pura-pura yang ada di sekitarnya seperti Pura Geger dalam pemutih, Pura Goa Gong, Dan Pura Uluwatu.

Sejarah berdirinya dari pura Geger Dalem Pemutih ini berkaitan dengan Pura Gunung Payung yang menurut cerita setempat pura tersebut berkaitan dengan perjalanan suci yang Dang Hyang Nirartha atau Dang Hyang Dwijendra.

“Sebelum perjalanan beliau sampai di Uluwatu beliau beristirahat sebentar di pura ini, keindahan dan ketenangan yang disuguhkan menjadikan beliau tertarik untuk menenangkan diri dan bersemadi di bawah sawo kecik,” jelasnya.

Bahkan pohon sawo kecik tersebut masih tumbuh besar sampai sekarang ini, keberadaan pohon tersebut di madya mandala (halaman tengah) Pura Geger.

Selanjutnya Pura Goa gong Berawal dari perjalanan suci Dang Hyang Nirartha, dimana ketika itu beliau sedang melakukan yoga semadi di Pura Uluwatu, beliau yang sedang menulis aksara-aksara suci pada beberapa batu yang akan dijadikan dasar pembangunan pura Uluwatu,

Tiba-tiba mendengar suara gong yang mengalun-alun dari kejauhan, suara tersebut begitu halus. Seolah memanggil untuk mendekatinya.

Baca Juga: Melukat di Bawah Pohon Berusia Seabad, Taman Beji Kebontingguh Buktikan Banyak Sembuhkan Sakit Non Medis

Beliaupun tergerak hatinya untuk mencari tahu sumber suara gong tersebut yang berasal arah Timur Laut (kaja kangin), melewati hutan dan tegalan.

Dang Hyang Nirartha masuk dalam ruangan gua, kemudian duduk di atas batu untuk melakukan semedi (meyoga) di tempat tersebut kemudian muncul air berwarna-warni, saat meyoga, beliau didatangi oleh ribuan wong samar atau gamang yang ingin juga mendapatkan penyupatan.

“Konon saat itu beliau berkenan melakukan penyupatan tersebut dan itupun tergantung dari karmanya masing-masing, Dang Hyang Nirartha juga minta agar wong samar tersebut bisa membantu membuat parahyangan suci di Uluwatu,” ungkapnya.

Dari percakapan itu, akhirnya disetujui dan secara tulus ikhlas wong samar tersebut membantu membangun Pura Luhur Uluwatu.

Dan yang terakhir yaitu Pura Uluwatu tempat Dhangyang Dwijendra melakukan tapa yoga semadi, Dan akhirnya Moksa.

Selain itu, dalam Lontar Dharmayatra menceritakan perjalanan Maharsi Dang Hyang Nirartha, dimana beliau datang ke Pura Luhur Uluwatu dan memberikan nasehat mengenai pentingnya menjaga kelestarian Pura.

Selepas dari sana, beliau melanjutkan perjalanan kearah Timur dan tiba di area barat daya Bualu, yang sekarang Desa Adat Kutuh, untuk kemudian beristirahat bersama para pengikutnya.

Baca Juga: Terbukti Atasi Gering Agung Jaman Dahulu, Pura Taman Beji Kebontingguh Jadi Rujukan Melukat bagi Sakit Non Medis

“Mengetahui kedatangan beliau, para masyarakat pun datang berkumpul untuk meminta petunjuk kerohanian dan berkat dalam kehidupan,” sebutnya.

Mendengar hal tersebut, Dang Hyang Nirartha menancapkan gagang payung miliknya ke tanah yang segera mengeluarkan mata air. Mata air ini kemudian dijaga dan dianggap sebagai mata air suci oleh masyarakat.

Selain itu, pesan Dang Hyang Nirartha untuk menjaga kelestarian Pura dan air suci tersebut pun dijaga dengan baik melalui pembangunan Pura Dang Kahyangan Gunung Payung, yang namanya berasal dari bagaimana mata air suci tersebut muncul

“Setelah melepas lelah, beliau dihampiri oleh masyarakat yang hendak meminta tuntunan spiritual dan berkeluh kesah. Untuk menjawab keluhan warga, Dang Hyang Nirartha menancapkan gagang payungnya ke tanah yang kemudian memunculkan sumber mata air jernih yang diyakini suci,” katanya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#bali #Kuta Selatan #hindu bali #hindu #pura #gunung payung #badung #Dang Kahyangan