Dikatakan Mangku Gede Sudana, keberadaan Pura Gunung Payung yang berlokasi di Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, Badung, Bali diyakini sebagai tempat bagi para calon pemimpin untuk memohon agar diberikan ketulusan dalam memimpin.
“Kalau dilihat secara makna, Pura Gunung Payung ini identik dengan memayungi jagat. Makanya kalau pemimpin agar bisa menjadi pemimpin yang baik, cocok nangkil ke pura ini agar diberikan petunjuk dalam memimpin,” katanya.
Pujawali di Pura dang Kahyangan Gunung Payung berlangsung saat purnama sasih kawulu, setiap setahun sekali.
Umat Hindu yang nangkil ke Pura Dang Kahyangan Gunung Payung berasal dari berbagai pelosok Bali.
Jero Mangku I Gede Sudana mengungkapkan, Pura Gunung Payung di empon beberapa Desa yakni, Desa Adat Kutuh, Desa Adat Bualu, Desa Adat Ungasan dan Desa Adat Pecatu.
Secara struktur, pura Gunung Payung dibagi menjadi tiga mandala. Diantaranya Nista mandala, Madya Mandala dan Utama Mandala.
Di Madya mandala terdapat peliggih tugu pengayat Ida Bhatara Penataran Dalem Peed.
Dari sini pemedek akan melihat bentangan Samudra Hindia yang begitu indah dengan warnanya yang biru.
Sedangkan di bagian Utama Mandala, terdapat gedong linggih untuk pemujaan Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Ida Bhatara Sri sebagai Dewi Kesuburan.
Disini juga kita melihat gedong dengan meru tumpeng tiga sebagai tempat pemujaan Maha Rsi dang Hyang Nirartha.
Selain itu juga terdapat Bale Papelik, Palinggih Melanting untuk stana Ratu Mas Meketel.
Kemudian Meru Tumpang Dua stana Ida Dang Hyang Niratha, Palinggih Manik Galih dan Palinggih Rambut Sedana. (dik)
Editor : I Putu Mardika