Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

CATAT!!Jangan Persembahkan Daging Babi dan Bunga Berwarna Merah di Pura Pucak Sangkur

I Putu Mardika • Rabu, 12 Juni 2024 | 21:53 WIB

Patung Ida Rsi di Pura Pucak Sangkur Desa Adat Kembang Merta, Kecamatan Baturiti, Tabanan
Patung Ida Rsi di Pura Pucak Sangkur Desa Adat Kembang Merta, Kecamatan Baturiti, Tabanan
BALIEXPRESS.ID-Pura Luhur Pucak Sangkur memang berbeda dari pura pada umumnya. Di Pura ini pemangku pantang menggunakan genta.

Tak hanya itu, pujawali di pura ini juga tak boleh dipuput oleh ida Sulinggih atau Pandita, sebab dikhawatirkan dianggap memada-mada.

Pemangku Pura Luhur Pucak Sangkur, Jero Mangku Wayan Artana mengungkapkan areal Desa Adat Kembang Merta sebagai kawasan Pura Luhur Pucak Sangkur pantang menggunakan sulinggih dalam muput berbagai ritual, termasuk di areal pura saat pujawali.

“Di wilayah Desa Adat Kembang Merta ida sulinggih dilarang muput. Juru sapuh atau pemangku yang ngayah di pura juga dilarang menggunakan bajra agar tidak memada mada,” paparnya.

Di areal Pura Luhur Pucak Sangkur ini juga terdapat duwe beliau berupa tirta penglukatan. Pemedek yang nangkil juga bisa memohon tirta untuk digunakan saat Karya Pujawali baik karya agung dan alit.

Baca Juga: Berada di Tengah Hutan Bedugul, Begini Kisah Pura Pucak Sangkur tempat Bertapa Ida Rsi Madura

Kemudian ada Tirta Pingit Manik sudamala. Sahananing mala leteh bisa digunakan. Ada juga Tirta Pecaruan, sebesar apapun karyanya maka bisa memohon tirta pecaruan.

Termasuk tirta pemijil agung dan alit pujawali disinilah menuntaskan

Dijelaskan Mangku Wayan Artana, Pujawali di pura ini pantang menggunakan sarana daging Babi. Selain itu, juga pantang menggunakan bunga atau sarana yang berwarna merah.

Pemedek juga dilarang menggunakan pakaian yang dasarnya terbuat dari kulit sapi.

“Seperti jajan merah, bunga merah itu dilarang, Makanya bunganya putih dan kuning yang sering digunakan. Termasuk pakaian berwarna merah juga” paparnya.

Selain pantang menggunakan sarana daging babi dan bunga berwarna merah, di pura ini juga ditemukan kisah Juuk Linglang yang hilang dan muncul. Konon jeruk ini dulu ada, namun sudah mati, Meski demikian secara niskala mnasih ada.

Baca Juga: Jangan Ditentang!! Ini Alasan Kala Gotongan dan Semut Sedulur Sangat Dihindari untuk Atiwa-Tiwa

”Kadang ada bau jeruk. Tidak setiap hari. Ada juga pemedek yang melihat, setelah didekati tiba-tiba hilang,” ungkapnya.

Pura yang diempon oleh Banjar Adat Kembang Merta dan Banjar Adat Antapan banyak didatangi dari kalangan Sulinggih, Ida Sri Bhagawan, JroMangku, Dasaran untuk nunas restu dari beliau. Ada juga datang karena pawisik. Konon beliau guru nabe di Niskala.

Ia menambahkan, Piodalan atau Pujawali Pura Pucak Sangkur adalah pada Hari Pagerwesi. Biasanya, banyak pemedek nangkil untuk melakukan persembahyangan di tempat ini.

Saat pujawali, pemedek yang nangkil datang dari berbagai pelosok Bali.

“Pemedek yang punya masalah bisa sungkem di pelinggih beliau, sebagai bentuk curhat seperti anak dengan ibunya. Ada juga memohon pasupatian, memohon pemuput yang ngenteg linggih, nunas penglukatan, penyudamala,” tutupnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#bali #Pucak Sangkur #sulinggih #hindu bali #hindu #pura #Tirta #tabanan