Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tempat Melukat Paling Unik dan Seram di Bali: Diyakini sebagai 'Markas' Wong Samar, Ada Bangunan yang Secara Niskala Berbentuk Masjid

I Putu Suyatra • Kamis, 13 Juni 2024 | 17:57 WIB
Pura Pat Payung, Serangan, Bali
Pura Pat Payung, Serangan, Bali

BALIEXPRESS.ID - Tempat melukat ini terbilang tak biasa. Sebab, lokasinya berada di Pura Pat Payung, Serangan, Denpasar, Bali, yang diyakini sebagai tempat berkumpulnya wong samar. Lalu, apa keistimewaannya?

Terletak di Pulau Serangan, Bali, Pura Pat Payung berdiri kokoh di tengah rimbunan semak belukar, menyimpan kisah sejarah panjang selama 200 tahun.

Dikenal sebagai tempat suci Hindu Bali, pura ini memancarkan aura magis dan menarik perhatian para peziarah dan wisatawan yang ingin merasakan pengalaman spiritual yang unik.

Asal Mula Nama Pat Payung

Nama "Pat Payung" memiliki makna yang menarik. Kata "Pat" berarti empat, sedangkan "payung" berarti payung atau peneduh.

Menurut Jro Mangku Ketut Sudiarsa, pemangku Pura Pat Payung, nama ini dapat diartikan sebagai "empat peneduh arah mata angin", yaitu timur, barat, utara, dan selatan.

Pura yang piodalannya jatuh pada Saniscara Kliwon, Wuku Uye yang dikenal dengan Tumpek Kandang ini, awalnya hanya memiliki satu palinggih yang terbuat dari kayu dapdap atau turus lumbung.

Seiring waktu, di bawah turus lumbung tersebut ditambahkan bebatuan, sehingga jumlahnya bertambah dan menyerupai bentuk palinggih.

Setelah mengalami perkembangan, palinggih di pura ini bertambah menjadi beberapa, yaitu Palinggih Meru yang merupakan pangayat Pura Dalem Sakenan, Palinggih Dukuh Sakti, Palinggih Dewa Pat Payung, dan Palinggih Gong.

Penambahan palinggih ini sendiri berdasarkan petunjuk gaib atau pawisik.

Kompleks Pura Pat Payung: Perpaduan Budaya dan Spiritualitas

Di sekitar Pura Pat Payung, terdapat empat bangunan pura, yaitu Pura Dalem Jawi yang diyakini sebagai stana ancangan Pura Pat Payung dari Jawa.

Oleh karena itu, penggunaan daging babi dalam persembahan sangat dilarang di pura ini.

Secara niskala atau gaib, pura ini diyakini berbentuk masjid, sehingga umat Muslim sering bersembahyang di sini.

Yang kedua adalah Pura Pangayat Ida Dalem Ped yang terletak di Nusa Penida dan diyakini memiliki hubungan erat dengan Pura Pat Payung.

Pura ketiga adalah Pura Dalem Pesalakan, yang juga merupakan ancangan dari Pura Pat Payung.

Dan yang terakhir adalah Pura Pat Payung itu sendiri.

Prosesi Melukat dan Tempat Mohon Taksu

Di pura ini sering dilakukan upacara panglukatan dengan menggunakan pajati dan bungkak sebagai sarana. Selanjutnya, pamedek yang ingin malukat akan dilukat oleh pemangku di jaba pura.

"Sebelum pengurugan laut dilakukan, penglukatan diadakan di laut. Waktu itu, laut masih dekat, hanya berjarak sekitar tiga meter, tetapi sekarang jaraknya sudah jauh," ujar Jro Mangku Ketut Sudiarsa.

Selain itu, banyak orang datang ke pura ini untuk memohon taksu balian, kesenian, jabatan, pengobatan, dan lainnya. Konon, Bhatara di Pura Pat Payung dikenal sangat baik dan pemurah.

"Jadi, siapa saja boleh bersembahyang di pura ini, tanpa memandang kasta, karena ini adalah pura swagina, bukan pura paibon,” ujarnya. ***

Editor : I Putu Suyatra
#balian #melukat #PURA PAT PAYUNG #bali #wong samar #serangan #hindu #denpasar #taksu