Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Dikenal Angker, Ini Alasan Kajeng Kliwon sangat Disakralkan

I Putu Mardika • Senin, 17 Juni 2024 | 01:10 WIB

Kalender Tika Pangalantaka karya Gede Marayana
Kalender Tika Pangalantaka karya Gede Marayana
BALIEXPRESS.ID-Mitos Kajeng Kliwon sebagai hari keramat bagi umat Hindu Bali sudah diyakini secara turun-temurun. Hari Kajeng kliwon begitu magis karena memiliki kekuatan yang amat besar.

Tak mengherankan, jika saat hari pertemuan antara Tri Wara Kajeng dan Panca Wara Kliwon ini umat Hindu banyak yang mempersembahkan segehan untuk para bhuta agar tidak mengganggu kehidupan manusia.

Akademisi UNHI Denpasar, Prof. Dr. Ida Bagus Gde Yudha Triguna, MS menjelaskan Kajeng Kliwon adalah hari yang disakralkan bagi umat Hindu Bali.

Secara etimologi, Kajeng Kliwon terdiri dari dua kata. Kajeng dan Kliwon.

Kata kajeng dalam Bahasa Bali berarti lanying dan tajam.

Baca Juga: Perhitungan Wariga untuk Menuju Titik Terang, Tapi Pahami Wapatangsada

Menurutnya, benda apapun yang ditancapkan di tanah saat hari kajeng akan memilii efek lanying, tajam, lancip.

“Karena pengaruh dari Tri Wara yakni Pasah, Beteng dan Kajeng. Walaupun benda itu lancip, tetapi kalau tidak memiliki efek lanying, maka tidak akan memiliki efek, jika tidak ditancapkan pada hari Kajeng” ujarnya.

Dikatakan Prof. Yudha, Kajeng uripnya 7 dan kliwon uripnya 8. Kalau digabung keduanya, maka uripnya 15.

Energinya yang muncul pada pertemuan urip 7 dan 8 pun sangat besar. Energi sebut Yudha Triguna sama dengan Kala. Dan bhuta kala ada meliputi unsur panca maha bhuta.

“Apabila energi itu bersifat negatif, maka disebut dengan bhuta kala,” jelasnya.

Semua kekuatan atau energi tersebut memiliki dua sisi yang berbeda. Keduanya disimbolkan dengan warna hitam dan putih.

Baca Juga: Ingkel dalam Wariga Bali, Berfungsi secara Ekologi Melestarikan Alam

“Lalu apa kajeng kliwon itu? Ya bisa menyeimbangkan atau mengendalikan kedua energi itu adalah Sang Hyang Siwa. Oleh karena itulah, pada saat Kajeng Kliwon, beliau (Siwa, Red) disebutkan melakukan yoga semadhi,” ungkapnya lagi.

Kajeng kliwon merupakan hari baik untuk melaksanakan ritual melukat.

Sedangkan bagi yang mau belajar ilmu-ilmu kawisesan, kadigjayaan, maka kajeng kliwon adalah hari yang baik untuk memulainya.

Inilah yang menyebabkan, mengapa pada saat Kajeng Kliwon orang merasa takut.

Bahkan, bagi orang yang belajar dan mendalami pawukon dan padewasan, maka akan mengetahui kalau kajeng kliwon itu sangat keramat. Karena penuh dengan kekuatan.

Dalam lontar Kala Maya Tattwa, keramatnya hari Kajeng Kliwon merupakan pengaruh dari pertemuan antara pertemuan Hari Kajeng dan Kliwon.

Saat Kajeng adalah hari Prabhawa sang Hyang Durga Dewi.

Sedangkan Kliwon adalah munculnya sang Hyang Siwa dengan kekuatan dharma.

“Munculnya kekuatan Siwa Durga atau Dharma Wisesa pada saat Kajeng Kliwon, menyebabkan hari kajeng kliwon saat yang tepat untuk memohon kesaktian. Kekuatan sidhi mandi, sidhi ucap, dan terutama menyucikan diri melaui panglukatan dan pabayuhan. Ini utamanya,” imbuh Guru Besar bidang Sosiologi Agama ini. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#durga #bali #kajeng #tri wara #hindu bali #kajeng kliwon #hindu #bhuta kala #Pasah #Beteng #siwa