Pura Batu Mejan berlokasi di Canggu, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali. Pura ini sudah dibangun sejak abad ke 11. Menariknya, pura ini dibangu dengan fondasi batu permata hijau.
Ada sejumlah pelinggih di Pura ini. Diantaranya, Pelinggih Padmasana sebagai stana Ida Snag Hyang Widhi, kemudian Ida Bhatara ring Pucaking Segara, Pelinggih Ida Bhatara Siwa Segara (Baruna).
Kemudian Pelinggih Pemade, Ratu Gede, Meru Tumpeng Tiga Ratu Gede Blembong, Meru Tumpang Kalih stana Ratu Biang Sakti. Kemudian ada pelinggih Ratu Ayu Dalem, Gedong Limosari, Ratu Ayu, Pregina.
Ketua Pengempon Pura Batu Mejan I Nengah Siana mengatakan Pura Batu Mejan jika diartikan batu mejajahan seperti tangga.
Kata mejajahan dalam arti bali artinya angker. Diyakini jika keangkeran ini datang dari batu permata hijau.
Nengah Siana menyebut Pura Batu Mejan memiliki sejarah panjang. Hal itu banyak terungkap dalam Purana Pura yang berupa Lontar.
Dalam lontar diuraikan ada pendirian pura oleh Raja Sri Jayasakti yang masa pemerintahannya diperkirakan bersamaan dengan Sri Jayabhaya di Jawa Timur. Kalau di Bali diprediksi bersamaan dengan pemerintahan Raja Bedahulu di Gianyar.
Nengah Siana menuturkan Semasa pemerintahannya, sang Raja sering melanglangbuana sampai ke Klungkung. Suatu ketika sampai keadaan Bali kurang tentram, maka beliau memerintahkan punggawa dan prajurit untuk mengadakan rapat bersama.
Maka diperintahkanlah bersama agar para punggawa dan puroihito turun ke desa. Tujuannya untuk membuat Parahyangan baik di gunung, desa dan di pantai atau penepi siring.
Akhirnya disepakati beliau turun dari kerjaaan di wilayah Giri Karang atau Pura di wilayah Lempuyang
Kemudian beliau melintas di wilayah kapal dan membangun Pura Sada Kapal. Kemudian di daerah Pantai di wilayah tanah barak. Dalam lontar disebutkan Pura Batu Majajahan didirikan di selatan tanah barak.
“Akhirnya kalau di cek, Benar saja di seblah utara ada tanah barak, kemudian sekarang ada kampung tanah barak termasuk wewidangan Canggu,” kata Nengah Siana.
Di dalam lontar juga disebutkan jika Sang Raja kemudian menitahkan agar didirkan sebuah pura atau parahyangan. Namanya Pura Batu Majajahan yang dibangun oleh Sri Jayasakti abad ke-11, tahun saka 1065.
Disana Pura Batu Majajahan itu dibawah dasarnya ada Sila Wilis, yang artinya permata Hijau. Dasar pura ini adalah batu hijau.
Hal ini juga disebutkan dalam lontar yang menggunakan Bahasa Sansekerta dan juga Bahasa Jawa Kuna
“Dasar atau fondasi pura ini disebutkan menggunakan batu permata hijau. Saya cocokkan antara isi di lontar dengan kenyataannya. Ketika ada renovasi pura, ditemukanlah batu permata hijau. Namun sayangnya kena palu sehingga pecah dan jadi rebutan, dibeli orang mahal dan sisanya masih tertanam di bawah kori agung. Jadi batu ini ada dari abad ke 11,” paparnya.
Dalam lontar juga disebutkan jika di Pura Batu Mejan, terdapat tiga sendang dan dua kelebutan atau sumber air.
Tiga sendang atau bulakan ini sejenis tempat permandian dan situs suci di Pura Batu Mejan.
Selain itu, ada tibuan medi, di sebelah batu bagian barat. Sebelum melukat, Umat Hindu yang nangkil harus mandi di tibuan medi. Ada tempatnya untuk lima orang.
Kemudian ada telaga waja. Telaga ini terletak ujung selatan batu ini. Kedalamannya sekitar 2 meter, airnya berwarna biru, meskipun tertimbun pasir. Air di tempat ini masih berwarna kebiruan
“Manfaatnya, situs itu adalah untuk diambil arinya untuk melukat. Kemudian saat ada bayi yang mau upacara tiga bulanan, maka bisa memohon air ini untuk ritual,” sebutnya.
Selanjutnya di sebelah batu berlobang atau sendang, terdapat tirtha sudhamala.
Siapapun yang beruntung yang masuk bisa mendapatkan tirta sudhamala, bisa unutk berobat, melukat.
“Kalau purnama, banyak yang nangkil kesini. Kalau air laut surut, maka bisa digunakan, karena fungsinya penyucian dan penglukatan,” ungkapnya.
Baca Juga: Ini Kisah Kemunculan Keris Pasupati di Pura Siwa Budha dibangun, Bisa Memohon Tamba
Kelebutan di Pura Batu Mejan ada dua, yaitu Taman Cakra dan Taman Bagendra. Jarak antara Taman Cakra dengan Taman Bagendra sekitar 30 meter.
Kedua Kelebutan ini juga disebutkan di dalam lontar.
Awalnya, pengempon pura hanya menemukan satu kelebutan saja. Bahkan sempat dianggap jika di dalam lontar ini tidak cocok.
Akhirnya pada suatu malam, Nengah Siana mencoba mencocokkan dan mendapat mujizat.
Ketika air laut surut, ia pun Bersama pengempon pura lainnya bisa dengan jelas menyaksikan kelebutan lagi satu, sehingga total berjumlah 2 buah.
“Sempat dikuras, keluarlah air tawarnya. Taman Bagendra namanya. Sehingga isi lontar ini sangat cocok dengan pura,” paparnya
Ia menambahkan, Taman Cakra yang dekat pesisir untuk tempat Ida Bhatara di Pura Batu Mejan mesucian, dan kelebutan lagi satu adalah Taman Bagendra sebagai tempat mesucian Ida Bhatara Pura Sada Kapal.
“Sehingga ada upacara apapun di Pura Sada Kapal, maka tetap Bendesa Adat dan Jero Mangku mengambil air sucinya disini di Taman Bagendra. Pura Sada Kapal juga erat dengan Pura Mejan, karena ada batu permata hijau,” sebutnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika