Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sakralnya Bale Pawedan di Pura Luhur Giri Kusuma Blahkiuh, Pedanda tak Berani Memada-Mada

I Putu Mardika • Selasa, 9 Juli 2024 | 06:22 WIB

Pura Luhur Giri Kusuma, di Desa Blahkiuh, Kecamatan Abiansemal, Badung
Pura Luhur Giri Kusuma, di Desa Blahkiuh, Kecamatan Abiansemal, Badung
BALIEXPRESS.ID-Pura Luhur Giri Kusuma merupakan pura kuno yang berada di Desa Adat Blahkiuh, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali. Pura ini dibangun pada abad 16-17 yang merupakan warisan Kerajaan Singasari.

Uniknya, di pura ini terdapat Genta Sakral yang bisa dicelupkan ke dalam tirtha untuk ditunas Umat Hindu.

Pura ini memang memiliki corak ukiran arsitektur kuno yang unik.

Bagaimana tidak, pura ini diukir oleh para undagi terbaik yang diundang langsung oleh Kerajaan Singasari dalam pacentokan mengukir.

Di pura ini terdapat sejumlah pelinggih. Diantaranya Candi Prasada, Sakti Tri Sukla Dewi. Pelinggih Batu Ngaus, Melanting pasar, dan Pelinggih Ratu Panji dilengkapi dengan Ratu Gede Nusa dan Pawedaan Pingit.

Tokoh Adat Blahkiuh, I Gusti Agung Ketut Sudaratmaja pura ini memiliki sejarah panjang.

Dalam cerita rakyat yang berkembang bahwa sekitar abad 16-17 ada sekelompok masyarakat yang berburu di sekitar alas sari. Alas Sari itu diduga berada di bukti sari Sangeh saat ini.

Namun, karena kondisi sudah larut malam dan terjebak hujan lebat disertai petir, maka kelompok masyarakat yang berburu ini akhirnya melakukan persembahyangan untuk memohon keselamatan. Kemudian ada pawisik agar mereka mendirikan pura.

Baca Juga: Jangan Main-Main! Berani Masuk ke Pura Batu Mejan hanya Pakai Celana Pendek Bisa Diserang Ayam Jago Misterius

Setelah mendirikan pura dengan bentuk bebaturan yang sederhana, masyarakat dibuat bertanya-tanya, Dewa Dewi siapa yang mereka puja di pura ini. Kembali masyarakat melakukan meditasi dan akhirnya mendapat pawisik dari Ida Hyang Toh langkir di Besakih.

Lalu diketahuilah jika yang dipuja adalah perwujudan Siwa dalam bentuk manifestasi Ida Hyang Lingga Bhuwana.

Karena Siwa, kendaraannya merupakan Singa, sehingga disebut Singasari. Bangunannya berbentuk Candi Prasada.

Bentuk Candi Prasada Konon juga ada di Desa Kapal. Bentuk Candi Prasada itu juga ada di Pura Sada di Kapal serta di Pura Uluwatu.

“Lingga Bhuwana di dalam Prakerti kerahayuan jagat itu beliau memiliki sakti Tri Sukla Dewi. Ini terdiri dari Ida Hyang Sari Mentik, Sari Mentik Sari dan Sari Mandel. Kalau dilihat, ini adalah dewi penguasa kesejahteraan,” sebutnya.

Dewi kesuburan ini mencerminkan jika masyarakat bermata pencaharian di sektor pertanian. Seperti sawah, ladang.

“Artinya jaman dahulu ini adalah perekonomian berbasis agraris,” imbuhnya.

Kemudian lambat laun, pura yang ditetapkan sebagai Cagar Budaya sejak 2019 ini terus disempurnakan.

Begitu juga pujawalinya dilakukan saat Purnama Kapat nuju Pasah.”Inilah keunikannya. Karena di tempat lain, pasah justru dihindari. Tetapi waktu ini diambil,” katanya.

Dikatakan I Gusti Agung Ketut Sudaratmaja pada jaman Kerajaan Singasari, salah satu Rajanya adalah pemuja Dang Hyang Nirartha atau Dang Hyang Dwijendra (Pedanda Sakti Wawu Rawuh).

Kuatnya keinginan sang Raja memuja Dang Hyang Nirartha, kemudian ketika bermeditasi konon ada brahmana yang melintas di depan pura dengan sekelebat cahaya terang.

Lalu dibuatlah bangunan dalam bentuk pawedan yang dilengkapi dengan siwakarana

Ada juga bajra dan lainnya sebagai alat pemujaan selayaknya seorang pendeta.

Baca Juga: Unik! Pura Batu Mejan Canggu dibangun di atas Batu Permata Hijau, Begini Ceritanya

Dengan adanya siwakarana, maka ada tradisi bahwa seberapapun besarnya upacara di Pura Luhur Giri Kusumo, saat Pedanda munggah, tetap tirta pemuput adalah tirta yang tedun dari pawedan, dan dibasuh dengan air lalu dipakai sebagai tirta pemuput.

“Hal inilah yang diketahui oleh para sulinggih di Badung dan Bangli. Sehingga kalau beliau pendeta yang muput karya di sini tidak berani memada-mada. Mereka cukup memuput dengan posisi yang lebih rendah daripada pawedan,” paparnya.

Keunikan lain, ada pesimpangan Batu Ngaus, sebagai tempat memuja dewa pelindung pertanian yang berkaitan dengan penanggulangan hama dan penyakit.

Dulu dikatakan Gusti Agung Ketut Sudaratmaja pura ini sebagai penghulu subak dan disiwi oleh subak di kecamatan petang dan abian semal

Apabila terjadi kekeringan yang berkepanjngan, maka umbul umbul hitam dimohin untuk turunnya hujan. Sekarang yang nyiwi adalah subak di yeh kilap, sekitar 16 sekeha subak

Di Pura ini juga ditemukan bangunan bale panjang yang mungkin sangat langka di jaba tengah, dengan jumlah saka 32 buah.

Bangunan ini sebagai bentuk perwujudan kewibawaan dan pesandekan dari panembahan yang melasti di Bale Agung. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#luhur #Dang Hyang Nirartha #hindu bali #hindu #abiansemal #pura #pedanda #blahkiuh #giri #badung #kusuma