Ada yang menarik dalam penggunaan sarana banten Saraswati, yakni sanganan Saraswati yang berbentuk cecek (cicak). Rupanya, ada makna filosofis di balik simbol cecek jika dikaitkan dengan ilmu pengetahuan.
Sarati Banten, Jro Ketut Utara mengatakan, perayaan Saraswati dimulai pada pagi hari sampai menjelang malam.
Saat itu, semua pustaka keagamaan dan buku pengetahuan lainnya diatur sedemikian rupa di tempat yang telah disediakan, lalu diupacarai dengan sarana upakara.
Hal itu tersurat di dalam lontar Sundarigama 14: "Saniscara umanis Watugunung, pujawali bhatari Saraswati, Widhi widhananya; suci, peras, daksina palinggih, kembang payas, kembang cane, kembang biasa, banten sesayut Saraswati prangkatan putih kuning saha raka tan sah wangi-wangi saha dulurannya.".
Sekurang-kurangnya upacara dan upakara Saraswati itu terdiri atas Banten Saraswati, sodaan putih kuning dan canang selengkapnya.
Lalu tirtha yang dipergunakan hanyalah tirtha Saraswati yang diperoleh dengan jalan memohon ke hadapan Hyang Surya.
Pelaksanaannya didahului dengan menghaturkan pasucian, ngayabang aturan, memusatkan bhakti pada Sanghyang Aji Saraswati agar menganugerahi keselamatan.
Kebahagiaan, kemajuan melalui ilmu pengetahuan dan ajaran-ajaran suci kerohanian. Lalu dilanjutkan dengan muspa dan matirtha. Upacara Saraswati ini nyejer selama sehari.
“Malam harinya umumnya melakukan samadi, mengheningkan cipta, rasa dan karsa atau membaca kitab-kitab Itihasa seperti pustaka Ramayana, epos Mahabharata dan lain sebagainya,” ungkapnya.
Dalam bebantenan Saraswati yang lazim dipergunakan oleh umat Hindu di Bali, terdapat sarana berupa jajanan yang dibentuk menyerupai cicak (cecek) yang harus dimakan saat Banyu Pinaruh.
Rupanya, ada mitos yang menyebutkan jika memakan sarana tersebut menjadi pintar.
Dikatakan Utara, secara filosofis, sesungguhnya hal ini berkaitan dengan sikap orang Bali yang meyakini tatkala orang berbicara sesuai dengan kebenaran, maka cicak akan berbunyi seolah menegaskan kebenaran tersebut.
“Artinya sejak zaman dahulu kala, cicak dianggap mampu mendeteksi ucapan yang mengandung kebenaran atau sesuai fakta, karena jika ada ucapan yang tidak benar, maka cicak akan diam saja atau bahkan menjauh,” paparnya.
Dikatakan Jro Utara, hal ini mengandung filosofi bahwa ilmu pengetahuan dipergunakan untuk mempertegas suatu kebenaran, bukan disalahgunakan untuk ketidakbenaran.
Oleh sebab itulah dalam sistem tata tulis huruf Bali, tanda titik atau penegas (paneges) aksara disebut dengan cecek.
Dalam sarana banten Saraswati, jajan berbentuk cicak tersebut berwarna putih dan hitam.
Ini mengandung makna bahwa ilmu pengetahuan itu netral, tergantung manusia yang menggunakannya.
Baca Juga: Pura Dalem Kerangkeng Nusa Penida, Jadi Tempat Menghukum Roh Berdosa
“Ilmu pengetahuan tidak pernah salah, namun manusia yang mempergunakan ilmu untuk kebenaran, maka disebutlah ilmu tersebut putih suci, namun jika untuk kejahatan disebutlah ilmu tersebut hitam,” paparnya.
Oleh sebab itulah agar ilmu pengetahuan yang diterima merupakan ilmu yang suci, maka jiwa dan raga harus disucikan terlebih dahulu sebelum menerima ilmu pengetahuan, yang salah satu caranya adalah dengan membaca buku.
“Ilmu pengetahuan hendaknya dipergunakan untuk kebaikan orang banyak,” sebutnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika