Tetapi juga pemedek yang nangkil ke Pura Prapat Ninggal dapat melakukan penglukatan untuk melebur segala mala dan kekotoran.
Penglukatan di Pura Prapat Nunggal juga sangatlah unik dimana pengunjung yang melakukan penglukatan turun ke aliran air bakau dan melakukan penglukatan dibawah Pelinggih Patok.
Prosesi penglukatan bertujuan untuk menyucikan secara lahir dan bathin.
Dijelaskan Pemucuk Pura Prapat Ninggal, I Wayan Joni pujawali di pura ini dilaksanakan setiap 210 hari sekali yaitu pada selasa Kliwon Wuku Tambir (Anggara Kasih Tambir).
Kegiatan persembahyangan dibantu oleh pemangku dan dibantu oleh Paiketan Semeton Pengayah Pura Prapat Nunggal ketika pada hari-hari suci.
Persembahyangan pada Pura Prapat Nunggal dilaksanakan dari areal Nista Mandala atau disebut Jaba Sisi yaitu pada Pelinggih Kanjeng Ratu Kidul dan Gedong atau Beji.
Pelinggih Kanjeng Ratu Kidul ditandai dengan nuansa serba hijau di tengah hutan mangrove.
Setelah melakukan persembahyangan di areal tersebut selanjutnya persembahyangan dilakukan di Pelinggih Simpang Empat yang berada di areal Madya Mandala atau bisa disebut Jaba Tengah.
Setelah melakukan persembahyangan pada Pelingih Simpang Empat, Persembahyangan di lakuakan di areal Utama Mandala atau bisa di sebut Jaba Tengah.
Penglukatan di Pura Prapat Nunggal dilakukan pada Pelinggih Patok.
Saat pujawali, ketika Ida Pranda mepios, maka harus ada pementasa tarian Sakral. Seperti Rejang Dewa, Baris Gede, Topeng Sidakarya, Wayang Lemah.
“Wajib hukumnya ada. Saat Nganyarin juga ada Ida Sesuhunan napak pertiwi atau mepajar. Mulai dari Barong Ket, Barong Sae,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika